Skip to content

Aku Bening

August 19, 2011

AKU BENING

From: Danan Widjanarko
To: dzikrullah-owner@yahoogroups.com
Subject: Re: [dzikrullah] Pengkhianat Tuhan – 11

Pak Yusdeka,

Ada pertanyaan:
Bisakah seseorang yang atheis menemukan AKU yang bening dan merdeka tanpa melalui sebuah ritual agama seperti kita? tapi menggunakan teknik-teknik tertentu, misalnya tai-chi, reiki dll. yang sifatnya kata orang adalah universal.

Mohon pencerahan,

Danan Widjanarko

Ass. wr.wb.

Pak Danan yth.

Sepengetahuan dan sepengalaman saya, taichi, reiki, tarekat, dan praktek-praktek sejenisnya boleh jadi BISA menemukan posisi “sifat” (saya senang membaca istilah ini) universal. Dalam istilah agama islam, sifat diri yang universal ini dinamakan Nafsul Muthmainnah (DIRI YANG TENANG). CIRI-CIRI Nafsul Muthmainnah ini hanya sederhana saja, yaitu pada Nafs ini tiada lagi rasa kekhawatiran dan tiada kesedihan padanya (la khaufun ‘alaihim wala hum yah zanun). Siapa saja dapat merasakannya. Realitas suasana diri yang bersifat universal ini kalau dibahasakan secara populer adalah, bahwa pada diri itu, otaknya tidak lagi dihantam oleh gelombang badai fikirannya, dadanya tidak lagi dihantam oleh galaunya perasaannya. Ya…, otak sang diri ini sudah tidak lagi terkotak-kotak dalam berbagai persepsi yang sangat beragam dari orang ke orang. Kalau masih saja terkotak-kotak, maka tatkala persepsi kita beda dengan persepsi orang lain, lalu kita akan sibuk sendiri membantah dan membantah.

Akan tetapi pada diri yang universal itu masih ada “aku diri”. Dan “aku diri” inilah yang mengaku-ngaku, bahwa aku ini luas tak terbatas, aku ini damai, aku ini melihat, aku ini mendengar, aku ini tahu. Kalau sudah sampai kepada posisi seperti ini, posisi “sang aku diri” universal, maka …, sebenarnya tinggal SELANGKAH lagi tugas “sang aku diri” itu, yaitu “PENGEMBALIAN”. Untuk tidak mengaku. Artinya…:
• “Sang aku diri” tidak mengaku luas. Kembalikan luas itu pada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Luas.
• “Sang aku diri” tidak mengaku melihat. Kembalikan melihat itu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Melihat.
• “Sang aku diri” tidak mengaku mendengar. Kembalikan mendengar itu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Mendengar.
• “Sang aku diri” tidak mengaku tahu. Kembalikan tahu itu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Tahu.

Proses sang diri untuk tidak mengaku-ngaku inilah sebenarnya makna lain dari “laa ilaaha illallah”, tiada yang luas, tiada yang melihat, tiada yang mendengar, tiada yang tahu, tiada yang ada ….. FANA, kecuali Yang Maha Luas, kecuali Yang Maha Melihat, kecuali Yang Maha Mendengar, kecuali Yang Maha Tahu, kecuali Yang Maha Ada. Posisi TIDAK mengaku ini persis sama dengan posisi tumbuh-tumbuhan, posisi gunung-gunung, posisi matahari dan bintang-bintang, posisi langit dan bumi, posisi alam semesta, posisi malaikat. Semuanya tunduk dan patuh kepada Kehendak Tuhan.

Pengembalian ini haruslah dilakukan dengan tanpa daya dan tanpa usaha…, karena tiada daya dan upaya, kecuali hanya daya dan upaya dari Tuhan. Pengembalian yang hakiki itu hanya dan hanya bisa kalau kita DITUNTUN oleh Allah. Karena yang tahu tentang Allah itu hanya Allah sendiri. Makanya kita selalu berdo’a dalam shalat kita: “Ya Allah…, tuntun saya…”. Kalau pengembalian itu masih dengan daya dan usaha dari “sang aku diri”, maka namanya “sang aku diri” itu masih ada, masih eksis. Dan “sang aku diri” itu akan tersiksa sekali, seperti kita-kita sekarang ini. Sehingga apa saja bisa berubah menjadi siksa. Beda pendapat jadi siksa. Beda agama jadi siksa. Beda suku jadi siksa

Begitu juga, kalau “sang aku diri” yang sudah mencapai sifat universal itu mengaku masih ada, EXIST, maka tidak jarang pula “sang aku diri” itu ingin PERGI meninggalkan realitas ketubuhannya, yang dalam istilah dunia kebatinan dinamakan juga dengan MOKSA. Misalnya, sang aku ingin ke syurga, maka tidak jarang bayangan syurga itu datang menghampiri kita. Padahal bayangan itu hanyalah sekedar memori-memori di otak kita tentang syurga itu. Karena realitas syurga itu hanya Allah dan Rasulnya saja yang tahu. Begitu juga saat “sang aku diri” “INGIN” bertemu dengan malaikat, nabi-nabi, dan orang-orang shaleh lainnya (yang pernah masuk ke dalam memori kita), maka semua itu akan datang silih berganti menjambangi ”sang aku diri” itu. Lalu “sang aku diri” itu menjadi SANGAT SIBUK dengan berbagai pandangan-pandangan, kalimat-kalimat, huruf-huruf, suara-suara, dan pertemuan-pertemuan dengan apa yang diinginkan oleh “sang aku diri” itu. Tak jarang pula “sang aku diri” itu merasa dirinya diangkat oleh malaikat menjadi nabi baru, utusan Tuhan yang suci di zamannya. Dan kesemuanya itu benar-benar seperti REAL, NYATA.

Dan yang paling menyiksa adalah saat “sang aku diri” itu “INGIN” menemui Tuhan, maka “sang aku diri” itu akan berupaya dan berusaha untuk ingin BERTEMU dengan Tuhan, bahkan tidak jarang pula “sang aku diri” itu ingin BERSATU dengan Tuhan. Maka kemudian lahirlah konsep-konsep aneh, misalnya ”sang aku diri” itu merasa bahwa dirinyalah Tuhan itu sendiri, “sang aku diri” itu merasa bersatu dengan Tuhan, atau bisa juga “sang aku diri” itu merasa bahwa Tuhan beremanasi ke tubuh “sang aku diri” itu. Dan ini semua sangatlah menyiksa. Akibatnya…, sungguh banyak orang yang mengaku spiritualis tapi malah tidak pernah shalat. Bagaimana “sang aku diri” itu mau shalat, kalau saat itu dia merasa seperti menyembah dirinya sendiri. Atau ada juga “sang aku diri” yang tidak shalat karena dia merasa bahwa dia telah shalat tadi di Mekkah, padahal saat itu, misalnya, dia ada di Indonesia (yang ini saya pernah mengalaminya saat saya di tarekat dulu). Sungguh banyak sekali orang-orang yang mengaku spiritualis, malah suka mabuk-mabukan, suka perempuan lain yang bukan istrinya, dan sebagainya. Dalam istilah umumnya suasana spiritalis seperti ini dinamakan orang dengan wilayah sufi yang sedang “HELAF”. Dan biasanya “sang aku diri” yang seperti ini bawaannya malas-malasan, tidak mau bekerja, inginnya menyepi terus ke tempat-tempat sunyi. Sehingga fungsi kekhalifahannya sudah nyaris hilang sama sekali. Dia menjadi sibuk dengan dirinya sendiri.

Sebaliknya saat mana “sang aku diri” itu “bersedia” dibimbing oleh Allah untuk tidak mengaku, dan posisi tidak mengaku itu berhasil dia raih, artinya ”sang aku diri” sudah tiada, FANA, maka yang ada tinggal hanya Yang Ada, WUJUD, yaitu Aku Yang Hakiki. Aku yang bening dan merdeka, artinya Aku yang berkehendak dengan sendirinya. Pada posisi seperti ini, “sang aku diri” benar-benar hanyalah menjadi seorang hamba yang bersedia agar:
• Otaknya “dipakai” oleh Allah untuk berkreasi dan menciptakan peradaban bagi sang diri itu sendiri.. sehingga dengan otak itu lahirlah pengetahuan demi pengetahuan yang berguna untuk merangkai peradaban manusia dari zaman ke zaman.
• Dadanya “dipakai” oleh Allah sebagai tempat untuk mengalirkan kehendak dan kemauan-Nya, sehingga dari dada itu muncul berbagai keinginan dan kemauan untuk bertindak mewujudkan peradaban itu.
• Kelaminnya “dipakai” oleh Allah sebagai sarana untuk pembiakan manusia. Kemudian, agar manusia-manusia itu cenderung untuk mau berbiak, maka di wilayah kelamin ini juga diberi rasa enak dan nikmat.

Dan…., lalu kita hanya tinggal menjadi SAKSI SAJA atas perbuatan Allah, atas kehendak Allah, atas kreasi Allah dalam meramaikan dan menata alam ciptaan-Nya ini. Sungguh tidak sia-sia semua ini berada di dalam genggaman Allah. Semua diatur-Nya, semua di tata-Nya, semua diurus-Nya tanpa henti. Walau kita tidak mau mengakui peran-Nya sekali un, Dia tidak peduli. Dia akan Maha Sibuk dengan segala ciptaan-Nya…….., Subhanaka….!!!.

Dan alangkah sangat besar siksa Allah kalau “TEMPAT SUCI (rumah Allah)” dimana Allah berkreasi, mencipta, berkendak, dan mengembangbiakkan manusia itu dikotori dengan berbagai tindakan yang negatif (fujur). Tatkala “sang aku diri” mengotori kelaminnya dengan kehendak percabulan, maka berbagai perbuatan cabul pun akan muncul tak terkendalikan pada sang diri itu. Tatkala “sang aku diri” mengotori dadanya dengan kehendak dan keinginan yang haram (misalnya dengan makanan dan minuman yang haram), maka apa saja bisa menimbulkan kemarahan, kebencian, keirian, dan perilaku-perilaku negatif lainnya pada diri itu. Tatkala “sang aku diri” mengotori otaknya dengan kreasi negatif, maka apa saja bisa dipakai oleh sang diri itu untuk merusak peradaban manusia. Siksa semua itu….!!!.

Demikian Pak Danan. Mudah-mudahan bermanfaat

Wassalam
Deka

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: