Skip to content

Alif. Lam, Mim

August 19, 2011

ALIF LAAM MIIM

Di dalam beberapa surat Al Qur’an, pada permulaan suratnya ada yang dimulai dengan rangkaian huruf-huruf yang kalau dibaca nyaris tidak ada maknanya yang jelas sama sekali, misalnya :

‘alif laam miim,
alif lam raa,
alif laam miim shaad,
haa miim, alif laam miim raa,
kaaf haa yaa ‘aiin shaad,
thaa ha, thaa siin miim,
thaa siin, yaa siin,
shaad,
‘aiin siin qaaf, qaaf, nuun,

dan sebagainya, terutama di awal surat-surat panjang di hampir tiga perempat bagian Al Qur’an.

Nah sikap umat Islam dalam memahami rangkaian huruf-huruf itu sangatlah beragam. Ada yang memaknainya dengan: “Hanya Allah sajalah yang tahu maknanya dengan pasti”. Ada pula yang mencoba menafsirkannya dengan cara menggatuk-gatukkannya dengan sebuah pemahaman yang dianggap sangat rahasia, sehingga hanya orang-orang tertentu sajalah yang berhak untuk mengetahuinya. Ya boleh-boleh saja sebenarnya untuk itu.

Tapi kali ini saya ingin memberikan sebuah wacana alternatif tentang makna dari huruf-huruf tersebut dengan cara yang sangat sederhana. Mari kita lihat…!

Dalam memahami Al Qur’an, bagi kita umat Islam yang tidak berbahasa arab, paling tidak ada dua cara yang bisa kita pakai.

Cara Pertama, adalah dengan kita membaca terjemahannya maupun tafsiran-tafsirannya yang telah dibuat oleh ulama-ulama terdahulu. Kita akan merasa bangga saat kita punya segudang buku-buku tafsir dari ulama-ulama terkenal, apalagi kalau ulama itu berasal dari Timur Tengah. Hati kita berbunga-bunga dengan buku-buku tafsir tersebut, seakan-akan dengan buku itu kita akan bisa menjadi paham dengan Al Qur’an dan ahli tentang berbagai ayat-ayatnya.

Dengan pemahaman cara pertama ini, biasanya kita hanya terangguk-angguk saja menyerap apa-apa yang kita baca. Mengerti tidak mengerti, ada atau tidaknya realitas ayat tersebut yang kita rasakan, kita tidak terlalu ambil pusing. Apa-apa yang kita baca sebagai terjemahan dan tafsiran dari ayat Al Qur’an itu kita hafal dan masukkan ke dalam otak kita sebagai sebuah nilai kebenaran. Kita tidak diperkenankan untuk ragu-ragu sedikitpun tentang benar atau tidaknya apa-apa yang dikatakan oleh ayat-ayat Al Qur’an ataupun tafsirnya, apalagi kalau tafsir itu adalah karya ulama yang dianggap sangat terkenal pada zaman lalu. Pokoknya apa-apa yang kita baca didalam Al Qur’an dan tafsirnya itu kita anggap adalah benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi. TITIK.

Makanya kira terheran-heran saja saat kita ingin memahami ayat-ayat tentang SUASANA, HAL, atau KEADAAN tentang orang yang beriman, seperti adanya dada yang bergetar saat dibacakan ayat-ayat Allah, atau adanya tangis dan menyungkur saking dahsyatnya pengaruh pengucapan nama Allah, ataupun adanya tuntunan demi tuntunan Tuhan dalam keseharian kita. Kita kesulitan untuk memahaminya, sehingga kita mulai bertanya-tanya tentang muatan kebenaran yang dibawa oleh ayat tersebut. “Benar nggak sih ayat ini…?”, kata kita sedikit bertanya-tanya dengan wajah yang malu-malu. Terlebih lagi saat kita tidak dapat mendapatkan atau merasakan realitas dari ayat-ayat yang kita baca tersebut. Sehingga akhirnya ayat Al Qur’an tersebut berubah menjadi sebuah ayat dogmatis yang harus kita terima, enak ataupun tidak enak terpaksa kita telan.

Cara kedua adalah dengan membaca bahasa Tuhan, berupa QALAM, yang dengan bahasa itulah Tuhan mengajari umat manusia terhadap apa-apa yang tidak diketahuinya. Pada artikel “Lautan Kira-Kira” dan artikel “Membaca Qalam Menuai Paham”, saya sudah mengupas sedikit tentang bahasa Qalam ini. Silahkan dilihat kembali. Nah…, dengan cara kedua inilah sebenarnya kita diminta oleh Allah dalam membaca Al Qur’an.

Untuk kali ini, kita akan melihat bentuk bahasa Qalam ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana cara Al Qur’an mengajak kita untuk membacanya. Langkah pertama seperti apa yang harus kita jalani untuk bisa melahap bahasa Qalam itu dengan sempurna.

Cobalah perhatikan…, diawal surat Al Baqarah, Allah mengawali surat tersebut dengan kalimat “Alif laam miim”. Sebuah untaian kata yang tidak punya arti apa-apa. Akan tetapi ternyata kata-kata tersebut mempunyai makna yag sangat fundamental ketika kita ingin membaca pengajaran Tuhan kepada kita saat ini.

Artinya untuk bisa memahami Al Qur’an, kita tidak diminta oleh Allah untuk membawa ilmu kita. Kita tidak diminta oleh Allah untuk membawa tafsiran-tafsiran yang telah kita punyai dan hafal selama ini. Kita cukup menjadikannya sebagai landasan berpijak kita saja, untuk kemudian kita melangkah ke anak tangga pemahaman berikutnya. Karena kalau kita masih membawanya, dan kita masih bertahan di anak tangga pertama saja, padahal ketika itu kita sedang dibukakan kesempatan oleh Allah untuk memahami realitas bahasa Al Qur’an dikekinian waktu, maka kita akan TERTUTUP dari pemahaman baru tersebut. Sehingga pemahaman yang akan kita dapatkan tetaplah sebegitu-begitunya saja, nyaris tidak akan pernah berkembang dan beranjak dari pemahaman sejak dari dahulu kala. Sama saja dari zaman ke zaman. Seakan-akan Allah telah berhenti untuk memberikan pemahaman baru kepada kita. Seiring dengan telah dibukukannya Al Qur’an, kita juga mengira bahwa Allah hanya berkata-kata sebatas apa-apa yang ditulis di dalam Al Qur’an itu saja.

Kita mengira bahwa tafsiran dan pemahaman kita terhadap Al Qur’an itu juga telah berhenti di hadits-hadits Rasulullah, berhenti ditangan sahabat-sahabat Beliau dan dilidah para tabi’in, tabit tabi’in. Hanya sebegitu-begitunya sajalah Bahasa Tuhan yang boleh kita tangkap. Tidak lebih tidak kurang. Makanya setiap ada buku-buku yang katanya adalah buku baru, yang ditulis saat ini oleh seorang ulama yang terkenal pula, maka isinya tidak akan lebih dari pengulangan-pengulangan atas pemahaman yang telah ada di zaman-zaman yang lampau. Kalaulah hal ini hanya untuk masalah-masalah ibadah saja, ya tidak masalah dan memang haruslah seperti itu. Akan tetapi untuk masalah-masalah yang berkenaan dengan seluk beluk jiwa dan perilaku manusia serta serba-serbi ilmu pengetahuan (segala macam ilmu pengetahuan), kita juga maunya mengekor kepada bahasa-bahasa tertulis zaman lalu itu. Akibatnya kita sangatlah terseok-seok di dua bidang ini.

Di sekolah-sekolah yang katanya mengajarkan agama kepada murid-muridnya, maka ilmu yang dibahas selalu saja ilmu yang berkenaan dengan tafsiran-tafsiran kehidupan berdasarkan kitab-kitab kuno tersebut. Dan muatan dari ilmu itu juga lebih mengarah pada satu sisi kehidupan saja, yaitu sisi kehidupan akhirat. Seakan-akan kita memang telah dengan sengaja memisahkan kehidupan akhirat itu dengan kehidupan kita di dunia saat ini. Sementara dalam do’a-do’a…, kita selalu mengharapkan adanya kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang baik di akhirat. Tapi kita telah membunuh kebahagiaan di dunia itu dengan sengaja. Kita telah menutup telinga, mata, otak, dan dada kita terhadap bahasa Tuhan tentang kehidupan dunia ini.

Padahal pengajaran Allah, bahasa dan kata-kata Allah akan selalu mengalir disetiap waktu dan dengan kualitas yang terkini pula, melalui tabir-tabirnya yang sungguh tak terhingga banyaknya. Ya…, Bahasa Allah tidak akan pernah berhenti mengalir, tidak akan pernah kuno dan ketinggalan zaman sampai kapanpun. Bahasa Allah adalah sebuah bahasa UP TO DATE yang selalu berganti baru disetiap detik yang berdenting.

Dan luarbiasanya lagi. Allah akan tetap mengalirkan Bahasa dan Omongan-Nya itu kepada siapa pun yang mau mendengarkannya dan dimanapun tempatnya. Allah tidak peduli apakah bahasa-Nya yang berada di tetumbuhan dan di alam semesta akan dimengerti oleh orang-orang yang beriman kepada-Nya atau tidak. Allah tidak milih-milih dalam menempatkan Bahasa dan Omongan-Nya itu, tidak harus hanya di Arab, tidak harus hanya di Indonesia, tidak harus hanya di negara-negara Islam. Tidak. Bahasa Allah akan mengalir di tabir-tabir-Nya diseluruh pelosok permukaan bumi yang ditujukan-Nya bagi orang-orang yang mau membacanya, IQRAA…!.

Dan yang akan membedakan berhasil atau tidaknya kita dalam membaca bahasa Tuhan itu hanyalah dengan melihat masalah manfaatnya saja nantinya. Kalau orang yang beriman kepada Allah yang membacanya, maka hasilnya pastilah bermanfaat untuk kemakmuran bagi seluruh umat manusia, dan akan menambah keimanan sang pembacanya kepada Allah. Akan tetapi kalau yang berhasil membacanya adalah orang yang TIDAK beriman kepada Allah, maka hasilnya lebih banyak mengarah kepada kemudharatan dan kesengsaraan umat manusia lainnya. Dan sang pembaca Qalam Tuhan yang tidak didasari oleh iman kepada Allah itupun tidak akan mampu pula untuk meningkatkan keimanan-Nya ke arah yang tepat, yaitu Allah.

Sederhana sekali sebenarnya…, bahwa ketika kita membaca ayat-ayat Al Qur’an, maka sebenarnya saat itu kita tinggal membenarkan saja ayat-ayat yang sedang kita baca itu. Sebab sebelum kita membaca ayat itu, atau saat membacanya, ataupun setelah membacanya, kita diberikan kepahaman oleh Allah tentang realitas dari ayat-ayat tersebut. Dan luar biasanya lagi, realitas dan kepahaman kita terhadap satu ayat yang sama, akan sangat berbeda dari waktu ke waktu. Allah seperti menuangkan terus pemahaman-pemahaman dan bukti-bukti baru yang berbeda dengan yang kita dapatkan sebelumnya, walaupun yang kita baca ayat Al Qur’annya adalah ayat yang itu-itu juga. Ayat yang sama tapi dengan pemahaman di kekinian waktu.

Demikianlah cara Allah menyusupkan, mengilhamkan, mewahyukan, pemahaman kepada kita disetiap saat. Seperti juga cara Allah mewahyukan pemahaman kepada lebah, kepada semut, kepada bumi, kepada matahari atas tugas-tugas yang harus mereka kerjakan. Jadi wahyu Tuhan itu tidak akan pernah berhenti diturunkan kepada seluruh makhluk-Nya sampai kapan pun. Karena Allah memang berbicara melalui bahasa wahyu, yang bukan berupa kata-kata, huruf-huruf, kalimat-kalimat, yang tidak sama dengan bahasa manusia yang kita lakukan.

Nah…, setiap kita mau mengawali membaca ayat-ayat al Qur’an, kita seperti diingatkan oleh Allah untuk segera menanggalkan pemahaman dan tafsir-tafsir yang telah kita ketahui sebelumnya. Alif laam miim. Copot semua dulu, nafikan semua file-file yang ada diotak kita tentang ayat-ayat yang akan kita baca itu terlebih dahulu. Lalu lihatlah Yang Ada, Laa ilaha illla Allah. Lalu siapkanlah mata, telinga, dan dada kita untuk menerima curahan dan aliran pengertian dari Tuhan, dan siapkan pula otak kita untuk merekamnya di setiap saat. Lalu amatilah lingkungan kita, amatilah di sekitar kita, kepahaman apa yang bisa kita dapatkan dari sana, dan lalu kita lihat ayat Al Qur’an yang bercerita tentang apa-apa yang harus kita lakukan terhadap lingkungan kita itu. Dan kita tinggal menjalankan saja anjuran yang diperintahkan oleh Al Qur’an. Dan seketika itu juga kita akan menjadi seorang penyaksi atas kebenaran dari ayat-ayat Al Qur’an yang kita baca.

Contohnya…

Saat bencana terjadi, banjir atau tsunami misalnya, Allah sebenarnya saat tengah menarok bahasa-Nya melalui tabir-tabir-Nya, yaitu pada alam itu sendiri yang sedang diluluhlantakkankan oleh sebuah kekuatan yang Maha Raksasa, dan pada diri-diri ribuan manusia yang sedang menderita duka nestapa sebagai objek yang menanggung akibatnya.

Mari kita lihat bagaimana bahasa Allah kepada kita saat terjadinya bencana tsunami di Aceh di akhir tahun 2004 yang lalu. Di saat umat manusia di Aceh dan sekitarnya tengah terlena dengan kehidupan sehari-hari mereka, Allah tiba-tiba memperlihatkan kekuasaannya. BUUMMM…, sebuah gempa dahsyat datang mengguncang wilayah lautan Aceh.

Bagi orang yang tidak sadar, maka gempa itu akan dianggapnya hanya sebagai sebuah gejala alam biasa saja. Apalagi dengan teknologi yang ada, gempa itu sudah bisa diramalkan kedatangannya sebelumnya, maka orang akan menganggapnya sebagai peristiwa alamiah yang memang sudah sewajarnya saja terjadi. Sehingga banyak diantara kita, terutama yang tidak merasakan dampak langsung dari tsunami itu, akan bersikap biasa-biasa saja. Kita tidak care, dan kita tidak sediki tpun berhasil meningkatkan kesadaran kita kepada Allah. Akibatnya kita juga akan tidak bisa meningkatkan kesadaran kita terhadap bahasa Tuhan yang sedang ditarok-Nya pada diri masyarakat Aceh yang sedang menderita. Kepedulian kita terhadap duka nestapa rakyat Aceh nyaris tipis, setipis kepahaman kita dalam memamami Bahasa Tuhan.

Akan tetapi mari kita lihat bagaimana Al Qur’an mengajak kita dalam bersikap dan berkesadaran saat kita membaca Bahasa Allah di setiap saat. Al Qur’an menjelaskan bagaimana seorang ULUL ALBAB bersikap dalam membaca Bahasa Tuhan, yang kali ini ditarok-Nya di Tabir Gempa:

“BUUMMM…”, sebuah Gempa dahsyat dengan kekuatan sekitar 9 skala R terjadi, maka kesadaran Sang Ulul Albab akan bergerak saat demi saat, paling tidak seperti berikut ini:

Pertama, Sang Ulul Albab akan menyadari bahwa saat itu ALLAH sedang menarok Qalam-Nya di celah-celah bebatuan didasar lautan Hindia. Jadi pada langkah pertama ini, kesadarannya langsung pergi, dan lari ke Allah. Dzikrullah. Bahwa semua ini terjadi adalah karena Allah yang sedang berkehendak, Allah yang sedang menarok Bahasanya di tabir Gempa buat dibaca, di IQRAA, oleh seluruh umat manusia. Begitu jelasnya bahasa Allah itu disabdakan-Nya kepada kita. Kita, dan siapa pun juga, akan bisa membaca Bahasa Qalam itu. Kita bisa dengan sangat jelas membedakan suasana sebuah gempa dengan suasana yang bukan gempa. Jelas sekali beda gempa itu dengan yang bukan gempa. Kita tidak perlu berfikir apapun tentang gempa itu. Kita tidak usah mencari-cari definisi dulu tentang gempa itu. Kita tidak usah membuka buku dulu untuk mencari tahu peristiwa macam apa ini gerangan yang sedang terjadi.

Apapun yang kemudian terjadi, sebagai dampak ikutan dari kejadian gempa itu, maka semuanya itu tidak lain adalah bahasa Tuhan, yang dengan sangat jelas, sedang di sampaikan-Nya kepada kita. Bahasa Tuhan itu adalah bahasa-Nya di tabir tsunami. Ada gelombang air laut yang menyapu daratan Aceh, Srilangka, Thailand, Afrika, dan sebagainya. Ada rumah, ada sekolah, dan ada bangunan-bangunan lainnya yang hancur lebur diterjang dahsyatnya gelombang lautan itu. Apapun yang selama ini diperkirakan orang tidak akan pernah terjadi, terjadilah pada saat itu. Mayat-mayat berserakan dimana-mana. Ratusan ribu nyawa melayang. Dan ratusan ribu orang lainnya, bahkankan lebih, kehilangan orang tua, anak, sanak saudara, dan harta bendanya. Semuanya diperlihatkan Allah melalui bahasa-Nya yang begitu jelas. Bahasa Bahasa Kun Fayakun, Bahasa Tabir. Semua orang bisa membacanya dengan jelas. Orang dengan agama apapun akan bisa membacanya.

Bagi Sang Ulul Albab, segala parahara dan duka nestapa umat manusia itu akan membuatnya lebih kuat (jahadu) lagi meloncatkan kesadarannya kepada Allah. Bahwa semua yang terjadi itu adalah bahasa Allah yang tengah menyapa seluruh umat manusia untuk kemudian dia ambil sebagai pelajaran.

Kedua, Sang Ulul Albab akan sadar bahwa saat gempa itu terjadi, sebenarnya Allah tengah berbicara kepadanya:

“Ini Aku…,
Aku bertajalli…, Aku bertajalli…, Aku bertajalli…,
Aku Ada…,
Aku Menampakkan Diri-Ku….!.

Kau wahai hamba-Ku…, lihatlah betapa besarnya kekuatan-Ku dan kekuasaan-Ku. Bumi yang tadinya diam, kemudian Ku guncangkan agar dia menjadi kokoh.

Lihatlah wahai hamba-Ku,
bagaimana Aku membuat tsunami dengan adanya gempa itu,
bagaimana Aku menyapukan gelombang itu ke daratan yang luas,
bagaimana Aku dengan mudahnya mengambil nyawa ratusan ribu umat manusia dan binatang ternak dengan seketika,

Lihatlah wahai hamba-Ku,
Betapa berkuasanya Aku,
Betapa berkehendaknya Aku,
Aku benar-benar berbuat sesuka hati-Ku,
Karena memang semuanya adalah milik-Ku.

Maka sujudlah kepada-Ku wahai hamba-Ku,
Sembahlah Aku,
Mintalah kepada-Ku,
Agar rahmat-Ku mengalir kepadamu…!.

Ya…, Sang Ulul Albab pastilah “gembira” melihat langsung penampakan Allah itu, seperti Allah bertajalli kepada Musa, saat Musa memohon agar Allah menampakkan Diri-Nya. Dan begitu Allah bertajalli, maka Bukit Thursina pun hancur luluh lantak, sehingga Musa pun pingsan. Semua ternyata FANA (tiada). Bukit Thursina tiada, Musa tiada, Fana…, fana…!. Hanya Dialah Yang Ada…, Allah…!.

Saat Allah “menampakkan” Diri-Nya, secara dhahir, maka bumi direkahkan, air laut di gelorakan, ratusan ribu manusia dimatikan. Semuanya menjadi FANA. Pendengaran…, penglihatan…, hidup mereka lenyap, diambil kembali oleh Sang Pemiliknya, ALLAH. .

Dan tiada lain…, Sang Ulul Albab pun tersungkur dan bersujud seperti Musa, seraya menegaskan: “… Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al A’raf 143).

Ketiga, Sang Ulul Albab akan terus membaca Qalam Tuhan yang ditarok-Nya di tabir wilayah pasca bencana. Manusia-manusia yang hidup di sekitar wilayah bencana alam itu sungguh didera nestapa. Ada yang sudah tidak punya rumah, pakaian, dan makanan lagi. Ada ribuan anak yang telah menjadi yatim piatu. Ada yang sakit, ada yang tidak punya sekolah lagi, ada yang sudah tidak bisa apa-apa lagi. Semua bercampur baur menunggu orang-orang yang mau menjadi kurir Allah, wakil Allah, kendaraan Allah, khalifah Allah, untuk membangun dan menata kembali wilayah Aceh dan masyarakatnya yang sudah porak poranda itu.

Keempat (yang terpenting sebenarnya), Sang Ulul Albab, dengan tergopoh-gopoh, akan melihat dada dan otaknya. Adakah di dadanya muncul kehendak untuk ikut serta membantu dan bahkan menata kembali Aceh yang sudah luluh lantak itu…?. Adakah di otaknya lahir ilmu pengetahuan baru tentang bagaimana caranya agar dampak tsunami dimasa-masa mendatang bisa dikurangi sekecil mungkiin…?. Ya…, dia akan buru-buru melihat apakah dadanya dan otaknya dipakai oleh Allah untuk menarok Kehendak-Nya dan Tahu-Nya untuk mengayam kembali peradaban rakyat Aceh yang lebih baik.

Allah adalah Sang Pemberi Rizki kepada siapapun juga. Dan cara Allah memberi rizki itu bukanlah dengan cara menjatuhkannya dari langit seperti turunnya air hujan, akan tetapi Dia akan “memakai” tangan-tangan siapa pun juga yang menyediakan tangannya dipakai oleh Allah untuk menyampaikan riski dari-Nya. Ya…, Allah akan memberi makan rakyat Aceh yang saat itu kelaparan melalui tangan-tangan umat manusia juga. Allah tidak milih-milih untuk memakai tangan siapa pun juga. Allah tidak hanya memilih tangan orang-orang yang beriman kepada-Nya, akan tetapi juga tangan-tangan orang-orang yang kafir kepada-Nya. Allah akan mengalirkan Kehendak-Nya untuk memberi makan rakyat Aceh itu kedalam dada siapa pun mau membuka DADANYA, dada yang luas.

Dan kita bisa melihat…!, bahwa ribuan bahkan jutaan dada segera dialiri kehendak untuk memberi bantuan untuk rakyat Aceh yang sedang menderita itu. Bantuan makanan dan sandang dari berbagai daerah di dalam negeri berdatangan menjambangi rakyat Aceh. Bahkan tangan-tangan dari berbagai penjuru dunia dan berbagai agama pun terjulur untuk menyampaikan rizki dari Allah buat masyarakat Aceh.

Akan tetapi pada saat yang sama juga ada jutaan dada yang diam tak bergeming saat memandang duka nestapa Aceh tersebut. Dada- dada itu tidak sedikit pun dialiri kehendak untuk mengalirkan bantuan. Yang namanya tidak dialiri kehendak, ya…, tidak ada dorong sedikit pun dari dalam dirinya sendiri untuk membantu rakyat Aceh yang memang sedang menderita. Dada-dada itu seperti dada yang telah mati, keras dan membatu. Dada itu telah berubah menjadi dada yang gelap gulita karena hilangnya cahaya Tuhan, Nurun ‘alan Nur, di dalamnya.

Taroklah sekarang, yang dengan tanpa proses berfikir sedikit pun, ada diantara kita yang dadanya dialiri oleh kehendak untuk membantu penderitaan rakyat Aceh itu. Kehendak itu seperti mendorong kita untuk, misalnya, mengirimkan segepok uang, atau sekantong makanan dan sekarung pakaian untuk mereka. Bahkan seperti berlomba-lomba, banyak pula diantara kita yang datang langsung kesana tak lama setelah bencana tsunami itu melanyau (menghancurkan) daratan tanah rencong tersebut.

NIAT…

Namun semua itu tadi kita lakukan atas dasar apa…?. NIATNYA APA ??, untuk istilah agamanya. Mari kita bedah dada kita ini barang sekejap, dimana hal ini bisa kita lakukan untuk kegiatan apapun juga.

Untuk saat ini, begitu sebuah bencana terjadi, informasi tentang itu akan mengalir deras masuk melalui mata dan telinga kita melalui berbagai cara, misalnya, tayangan TV, surat kabar, radio, telpon, dan sebagainya. Lalu amatilah dada kita. Ada nggak muncul sebuah dorongan dari dalam diri kita (dada) agar kita turut meringankan tangan untuk membantu orang-orang yang terkena bencana itu. Kalau ada, maka saat itu sebenarnya kita patut bersyukur, karena saat itu berarti Allah masih suka memakai DADA kita sebagai tempat DIA menarok Kehendak-Nya. Ya…, dada kita masih dipakai-Nya untuk sebagai Rumah-Nya tempat Dia Berkehendak. Kehendak untuk mengalirkan rezki dari-Nya kepada orang-orang yang sedang menderita.

Akan tetapi tatkala dada kita tidak sedikit pun dialiri kehendak untuk membantu orang-orang yang ditimpa bencana itu, maka saat itu sebenarnya kita tengah berada, atau lebih tepatnya ditarok Allah, dalam sebuah tragik hidup yang sangat menyedihkan. Bahwa saat itu pada hakekatnya Allah sedang tidak berkenan lagi untuk memakai dada kita ini sebagai Rumah-Nya untuk menarok Kehendak-Nya. Allah telah mencampakkan dada kita dari sisi-Nya. Kalau sudah begini, sudah seharusnya kita mulai merasa khawatir. Karena itulah sebuah isyarat yang menandakan bahwa dada kita ini mulai mengeras dan membatu. Dada kita tidak disinari lagi oleh Allah. MATI. Dan Al Qur’an mengisyaratkan bahwa kualitas diri kita saat itu sebenarnya lebih rendah dari seekor binatang.

Seekor anjing saja, terutama anjing yang sudah terlatih dengan baik untuk menolong orang, akan berjuang mati-matian untuk menyelamatkan seseorang yang, misalnya, sedang terjatuh ke sebuah kolam. Anjing tersebut seperti di dorong oleh sebuah kehendak yang sangat kuat untuk menolong orang yang tenggelam tersebut.

Sekarang taroklah Tuhan masih mau menempatkan Kehendak-Nya di dalam dada kita. Ada dorongan yang kuat muncul di dalam dada kita agar kita membantu korban bencana itu. Dan seketika itu juga kita akan lari ke dalam otak kita untuk mencari alasan (logika) untuk apa kita membantu orang. Ya, saat itu kita akan bisa tahu dengan persis dengan NIAT apa kita memenuhi dorongan Kehendak Tuhan itu.

Otak kita ini memang penuh berisi file rangkaian memori tentang berbagai ISTILAH berikut dengan suasana RUANGAN DADA yang terkait dengan istilah-istilah tersebut. Tentang NIAT, misalnya, di dalam otak kita paling tidak sudah ada memori tentang istilah RIA dengan berbagai variannya, dan istilah IKHLAS dengan berbagai turunannya pula. Akan tetapi tahunya kita tentang istilah ikhlas itu tidak dengan serta merta bisa membawa kita untuk bisa masuk keruangan dada yang ikhlas pula. Sebaliknya, tanpa perjuangan yang berarti kita malah dengan mudah bisa tercebur masuk ke dalam ruangan dada yang RIA. Aneh memang.

Setiap orang yang datang untuk membantu penduduk di wilayah bencana itu, akan TAHU dengan PASTI untuk niat apa dia kesana. Walaupun pekerjaannya sama, yaitu membantu orang, akan tetapi ruangan dadanya tetap saja berbeda dari orang ke orang dengan sangat signifikan. Sangat pribadi sekali sifatnya. Hanya kita sendirilah yang tahu dengan jelas dengan niat apa kita membantu itu.

Ada diantara kita yang datang dengan ruangan dada yang saat itu penuh dengan suasana ruangan PERPOLITIKAN, maka kunjungan kita itupun akan penuh dengan logika-logika untung rugi politik pula. Bendera atau simbol-simbol politik yang kita usung akan berkibar menyertai kita. Tiba-tiba saja, dalam membantu korban bencana, kita sudah kecemplung kedalam wilayah dada dan otak yang penuh dengan logika untung rugi. Ada pula kita yang datang kesana dengan ruangan dada JAIM (Jaga Image). Tiba-tiba saja kita akan berada di wilayah yang penuh dengan logika untuk menjaga penampilan kita, agar kita dikenal orang, agar kita dihormati orang, dan sebagainya.

Ada memang diantara kita yang datang dengan mengusung nama Tuhan. Kita menyatakan bahwa kita kesana adalah atas nama Tuhan, terpanggil oleh misi dari Tuhan. Bagus memang. Akan tetapi saat kita menyebut nama apa yang kita sebut sebagai Tuhan itu, di ruangan dada dan otak kita masih penuh dengan berbagai wajah yang terpersepsikan. Masih ada rupa, masih ada warna, sehingga segala tindakan kita juga akan penuh dengan logika-logika yang muaranya adalah ke rupa-rupa dan warna itu. Misalnya, ada orang yang datang dengan dada dan otak penuh “wajah Yesus Kristus”, maka logika yang muncul ketika membantu itupun akan diwarnai oleh logika kekristusan. Padahal rakyat di tempat bencana itu ruangan dada dan otaknya tidak menerima logika kekristusan itu. Sehingga akhirnya, alih-alih dengan bantuan itu kita bisa memperbaiki suasana, malah yang muncul kemudian adalah ketegangan dan penderitaan baru.

Dengan cara yang sama, kita akan mengetahui dengan sangat tepat tentang dengan motivasi apa kita memberi bantuan ketempat bencana itu. Bisa hanya karena malu, ikut-ikutan, dan tentu saja karena IKHLAS.

Gambar dibawah berikut adalah sebuah bahasa Tuhan yang sangat nyata dihadapan kita, lalu kehendak macam apa yang ditarok Allah kedalam dada kita saat ini. Lalu realitas tindakan macam apa pula yang terwujud di dalam otak kita sehingga anggota tubuh kita tinggal mengikuti saja kehendak tersebut tanpa beban sedikitpun untuk, setidak tidaknya, kita lakukan di lingkungan sekitar kita …????. Dan saat kita melakukan semua yang realitas itu tadi, kita sedang menyandarkan kesadaran kita dengan utuh kepada SIAPA…?, yang dalam istilah agamanya adalah NIAT…!.

MENEMUKAN JAWABAN…

Demikianlah…, dengan memperhatikan dada kita, lingkungan kita, bahkan alam semesta tanpa batas, maka kita dengan serta merta artinya sudah membaca (Iqraa) Al Qur’an dengan nyata. Lalu ayat demi ayat Al Qur’an yang tertulis di mushaf itu tinggal hanya menjadi pembenar saja atas apa-apa yang kita baca tersebut. Lalu biarkanlah ayat-ayat Al Qur’an itu berbicara kepada siapa pun dengan level pemikiran seperti apapun dan sesuai pula dengan zaman yang dilaluinya. Alif laam miim…

Selesai

Wassalam
Deka

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: