Skip to content

LAUTAN KIRA-KIRA

August 19, 2011

LAUTAN KIRA-KIRA….​ DEKA

Mungkinkah kita ini hidup hanya dalam dunia yang bergerak dari satu kira-kira ke kira-kira berikutnya…?. Pertanyaan ini tentu saja akan menimbulkan pro dan kontra juga bagi kita untuk menjawabnya. Bagi kita yang setuju, maka sebuah keberagaman dalam segala hal akan menjadi sebuah keniscayaan saja jadinya. Akan tetapi bagi kita yang tidak setuju dengan konsep kira-kira ini, maka akan muncul konflik, paling tidak di dalam diri kita sendiri, tentang kenapa orang lain berpendapat tidak sama dengan apa-apa yang kita anggap sebagai sebuah kepastian dan kebenaran.

Nah…, disini kita tidak akan membahas tentang kepastian dan kebenaran sebuah konsep ataupun pemikiran. Karena sebuah kebenaran dan kepastian itu hanya bisa dilekatkan pada Yang Maha Benar, Yang Maha Pasti saja. Kita hanya akan membahas tentang bagaimana hampir semua manusia ini hanya hidup dalam dunia kira-kira. Kemudian untuk setiap peran kira-kira yang kita jalani itu, akan ada pula akibatnya yang harus kita pikul bahkan terhadap apa-apa yang kita perkirakan itu.

Kalau kita perhatikan dengan seksama, kira-kira yang masing-masing kita melakukannya itu begitu luasnya, nyaris tanpa batas, sehingga boleh dikatakan hampir menyerupai lautan yang sangat luas…, lautan kira-kira. Nggak usah jauh-jauh, kalau kita lihat akhir-akhir ini dalam milis Dzikrullah, akan kelihatan sekali, bagaimana akhir-akhir ini Mr. Yusa Wredyan Syah, Mr. Deka, Mr. Iskandar, Mr Jhody A. Prabawa, dan sebagainya, keluar dengan pemahaman beliau masing-masing sesuai dengan sistem nilai yang ada di otak beliau-beliau itu.

Mari kita urai satu persatu perkiraan-perkiraan yang kita pakai di dalam hidup kita ini.

KIRA-KIRA BADANI…

Kita hampir selalu mengira bahwa tubuh kita adalah seperti bentuk yang bisa terlihat seperti di dalam sebuah foto atau terpampang di selembar kaca cermin. Secara selintas kita dibuat untuk mengira bahwa tubuh kita ada batasnya dan terpisah dengan segala sesuatu dan keadaan di sekeliling kita. Begitu kita mengamati kulit kita, maka maka kita akan dibawa untuk menyadari bahwa kita adalah substansi yang batasi oleh jaringan kulit dengan alam disekitar kita.

Jaringan kulit inilah yang membatasi KESADARAN kita, sehingga kita menjadi sosok yang begitu sempit. Ketika melihat keluar dari kulit itu, maka kita lalu mengira dan berkata: “ooo… yang diluar tubuh saya itu bukan saya lagi. Itu adalah tubuh orang-orang lain yang juga dibatas oleh jaringan kulit masing-masing yang terpisah dari tubuh saya”. Lalu mulailah kita melakukan pembandingan demi pembadingan dengan diri-diri yang terpisah dengan diri kita itu. Kita, misalnya, mengatakan itu perempuan, itu laki-laki, itu diri yang berkulit putih, itu londo, itu orang kulit berwarna atau gelap. Itu si negro, itu si sawo matang.… Itu si cantik, itu si ganteng, itu si jelek, itu si buruk rupa…, dan seabrek itu-itu lainnya.

Akan tetapi kalau kita mau mengurai diri kita ini, walau dengan tanpa alat bantupun sekalipun, maka kita akan bisa mendapatkan kesadaran baru. Coba kita amati dengan kesadaran bahwa tubuh kita ini sebenarnya hanyalah terdiri dari atom-atom yang saling berikatan satu sama lain. Begitu kita bisa menyadari bahwa diri kita ini hanyalah kumpulan atom-atom saja, maka kita sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang si negro, mana yang si bule, mana yang si perempuan, mana yang si laki-laki, mana yang si cantik, mana yang si jelek, mana yang si presiden, mana yang si rakyat jelata, dan sebagainya. Bentuk tubuh kita sudah tidak nyaman lagi untuk dilihat. Bentuk tubuh kita hanyalah atom-atom yang bergerak dengan begitu cepatnya. Jangankan atom itu, kalau kita mencoba untuk melihat wajah seseorang dari jarang 5 sentimeter saja, maka wajahnya sudah tidak sedap lagi untuk dilihat.

Saat ini, dunia pengetahuanpun sudah dapat memperlihatkan kepada kita bahwa antara atom-atom yang ada didalam tubuh kita dengan atom-atom yang ada ditubuh orang lain terjadi pula saling loncat-loncatan energi satu sama lain. Sehingga orang yang teratur dan kuat gerakan atom-atom di badannya akan dapat memberikan pengaruh kepada diri orang lain yang lebih kacau dan lemah pergerakan atom-atomnya.

Kalau kita lanjutkan lagi, bukan hanya untuk menyadari atom-atom di tubuh kita, tapi juga dengan memperhatikan udara yang kita hisap setiap saat, maka kita akan bisa menyadari bahwa atom-atom udara yang kita hisap itu juga saling berikatan dengan atom-atom udara yang dihisap oleh orang lain. Dengan sedikit keheningan saja, maka kesadaran kita akan bisa berubah, bahwa nafas kita dan nafas orang-orang yang disekitar kita, bahkan dengan orang-orang dari tempat yang berjauhan sekalipun, ternyata berada dalam satu ikatan pernafasan. Nafas kita semua ternyata berada dalam sebuah ikatan besar nafas yang terjadi melalui atom-atom udara yang saling berloncatan satu sama lainnya.

Dengan mencoba menyadari hal ini, maka sedikit banyaknya kita akan bisa merasakan bahwa ternyata kita sesama manusia ini ternyata pada dasarnya adalah sebuah kesatuan diri dan nafas dalam sebuah ruangan besar alam semesta. Atom-atom tubuh kita ternyata saling berinteraksi satu sama lain di dalam ruangan yang sama. Hanya ruangan kosonglah yang membatasi atom-atom yang membentuk tubuh-tubuh kita ini satu sama lainnnya. Namun ruang kosong itu punya daya-daya yang bekerja didalamnya untuk menahan agar atom-atom itu tidak bergerak dalam gerak yang liar tak beraturan.

Para ilmuan juga sudah punya cukup bukti yang meyakinkan tentang adanya daya-daya itu tadi. Cuma sayang…, pengetahuan tentang daya-daya itu belum serta merta bisa membawa orang untuk sadar kepada SANG EMPUNYA DAYA ITU. Sehingga belum semua orang yang bisa lurus untuk menyembah SANG EMPUNYA DAYA ITU. Masih banyak diantara kita yang tersasar-sasar kepada benda-benda yang notabene hanyalah susunan atom-atom yang melayang dalam sebuah ruang kosong maha besar yang penuh dengan daya-daya yang memeganginya dengan telaten. Dan tiada lagi yang bisa kita lakukan, kecuali hanya menundukkan kesadaran kita kepada Sang Punya Daya, Subhanaka….!!.

Akan tetapi…, begitu kesadaran kita masuk kembali kebatas-batas kulit tubuh kita, maka kita nyaris secara otomatis berada dalam kesadaran bahwa hanya sebatas liputan kulit inilah saya. Lalu kesadaran kitapun ikut-ikutan menyempit. Apa-apa yang ada pada diri kita dan disekitarnya mulai kita kira itu adalah milik kita. Ini makanan saya, ini rumah saya, ini pakaian saya, ini anak saya, ini istri saya, ini rumah saya, ini orang tua saya, dan sebagainya. Akibatnya saya mulai terbinding dengan kesemuanya itu. Saya jadi terikat kuat, terjangkar dengan atribut-atribut saya itu, dan sekaligus akan membuat saya sangat sibuk untuk membela atribut-atribut saya itu. Yang namanya membela, ya membela…. Kita bisa melihat dengan mudah bagaimana orang-orang bisa sampai mati-matian membela atribut-atribut yang mereka bela itu, terutama bagi sang pembela yang membabi buta…!.

KIRA-KIRA IMMATERI…

Bahkan untuk hal-hal yag abstrak sekalipun mulai kita klaim pula sebagai milik kita, misalnya, pemikiran kita, pemahaman kita, ilmu kita, bahkan juga agama kita. Kita mengira-ngira lalu mengklaim bahwa agama yang benar adalah agama yang sesuai dengan pemahaman kita atas teks-teks tertulis ataupun bahasa lisan yang sampai kepada kita. Makanya umat Kristen sangat-sangat yakin dengan agama mereka, seperti yakinnya kita, umat Islam ini, terhadap kebenaran agama kita. Ya…, wajar saling klaim seperti itu, kalau kita hanya berbicara terminologi agama secara tekstual. Bahkan kalau hanya secara bahasa tertulis ataupun lisan seperti ini, maka akan kelihatan sebuah sebuah fenomena yang sangat menarik untuk dikaji.

Bayangkan, dalam sebuah agama yang sama saja, pemahaman kita sangat sarat dengan kira-kira yang sangat beragam sekali. Sungguh mengherankan…!. Padahal yang kita saling coba untuk pahami itu adalah: ayat kitab suci yang sama, hadits yang sama, bahkan Tuhan dan Nabi yang sama pula. Akan tetapi kenapa kita bisa berbeda. Bukankan secara badani kita tadi sudah bisa sedikit banyaknya bisa masuk kepada kesadaran, bahwa tubuh dan nafas kita dengan atom-atom pembentuknya, ternyata mempunyai interaksi yang sangat harmonis satu sama lainnya…?.

Mari kita lihat sejenak. Misalnya…, kita terlalu sangat sering mengaku, mengira dan bahkan berkoar-koar bahwa kita sedang membela seseorang, sebuah TATA NILAI, ataupun SESUATU yang sangat kita HORMATI dan MULIAKAN. Akan tetapi tanpa kita sadari pula, pada saat yang sama ternyata kita justru sedang merendahkan, merusak, dan bahkan menghancurkan CITRA sesuatu yang kita hormati dan muliakan itu. Ya seperti pedang bermata dua saja nampaknya. Salah-salah pakai, malah akan melukai diri kita sendiri.

Kita mengira bahwa suatu saat kita tengah membela agama Islam, akan tetapi jarang kita yang bisa menyadari bahwa pada saat yang sama kita sebenarnya malah tengah menghancurkan citra Islam itu sendiri. Kita sering mengira bahwa kita tengah membela Rasulullah dan ajaran-ajaran Beliau, akan tetapi kita jarang yang sadar bahwa pada saat yang sama sebenarnya kita malah bisa saja sedang membuat citra Rasulullah terpuruk. Bahkan ada pula diantara kita yang mengaku tengah membela Tuhan, tanpa kita mampu untuk menyadari bahwa sebenarnya kita tengah merendahkan Tuhan itu sendiri. Karena memang semua yang kita lakukan pada hakekatnya ternyata hanyalah demi untuk membela EGO kita, membela fikiran kita, membela pemahamankan kita sendiri, membela kepuasan kita diri kita sendiri.

Akibatnya…, kita hanya bisa terheran-heran saja saat kita melihat hasil dari apa yang kita kira dan lakukan itu tadi. Karena kita…, tiba-tiba saja citra Islam sudah jatuh ke level yang sangat menyedihkan sekali. Begitu orang menyebut Islam, maka karakternya seperti kelompok XYZ lah, yang dianggap angker, keras, dan bahkan seperti teroris lah yang terbayangkan oleh orang. Karena ulah kita…, tiba-tiba saja citra Rasulullah yang sangat agung itu sudah kita temukan menjadi terpuruk dimata masyarakat dunia. Karena tingkah kita…, tiba-tiba saja citra Al Qur’an yang agung ini, sudah jatuh menjadi kitab kuno yang berisikan hanya ungkapan “katanya-katanya” yang realitasnya dipaksa-paksakan untuk diikuti oleh orang lain. Karena tingkah polah kita…, tiba-tiba saja Al Hadits yang sangat kontekstual dan berhasil membangun peradaban dizaman Rasulullah, kemudian berubah menjadi hanya sekedar kalimat-kalimat yang cocok dipakai di negara Arab sana dan di zaman lalu pula…!.

Sungguh kasihan sekali Rasulullah…. Beliau dari awal sudah menyatakan bahwa nanti umat di belakang Beliau akan sering bertengkarnya, sering berselisih pahamnya, sering berpecah belahnya menjadi puluhan golongan yang salah. Dan Beliau menyatakan bahwa hanya ada satu golongan benar…!. Eh…, kita malah salah dalam menangkap pesan Beliau yang sangat indah ini. Kita dengan semangat empat lima malah jadi saling rebutan untuk menyatakan bahwa diri kitalah golongan yang benar itu dan orang-orang yang lainnya adalah salah. Sekarang ini bukan lagi umat Islam ini terpecah-pecah menjadi tujuh puluhan golongan lagi, tapi sudah ribuan bahkan jutaan golongan yang sedang rebutan sebutan benar. Namun sayangnya, benarnya itu masih pada tatanan benar kira-kira saja. Sesuai dengan pemahan kita masing-masing saja soalnya.

Padahal kalau kita mau sejenak untuk meningkatkan kesadaran kita seperti diatas, maka satu golongan yang benar itu boleh jadi adalah golongan yang tidak pernah mau rebutan untuk dikatakan benar itu. Dia tidak mau menyalahkan orang lain, hanya karena perbedaan ditingkat pemahaman saja atas hal-hal yang sama kalau dituliskan. Mungkin sekali orang yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai satu golongan yang benar itu adalah golongan yang mampu menyelami dan berenang dalam setiap perbedaan itu tanpa dia ikut basah dalam banjirnya perbedaan-perbedaan pemahaman itu. Lihatlah Rasulullah, hampir setiap apa-apa yang disampaikan oleh sahabat kepada Beliau, selalu sahabat itu dibenarkan oleh Beliau. Walaupun begitu.., Beliau hampir selalu pula memberikan pemahaman lebih untuk dipakai oleh sahabat tersebut di masa mendatangnya.

Misalnya, ada sahabat yang sudah merasa dirinya baik datang kepada Beliau, Beliau membenarkannya, tapi sekaligus juga merontokkan keangkuhan sahabat tersebut, seperti dengan mengatakan bahwa ada sahabat yang lebih baik dari kamu, yaitu si Fulan, sekarang saja bunyi telapak kakinya sudah kedengaran dari syurga. Atau kalau datang orang yang namanya si Fulan mintalah do’a kepadanya. Padahal sahabat yang mengaku sudah baik itu adalah sahabat Beliau yang sepintas memang sudah kelihatan sangat baik. Begitulah cerdasnya Beliau dalam merontokkan keangkuhan para sahabat Beliau sehingga sahabat-sahabat Beliau terkenal sebagai orang-orang yang rendah hati…!.

KIRA-KIRA SPIRITUALITAS…

Untuk lebih membedah tentang betapa kita ini sebenarnya hanya berada dalam lautan kira-kira saja. Kita kira kita sudah paham, kita kira kita sudah ikut apa yang dikatakan Al Qur’an, kita kira kita sudah berspiritual, dan sebagainya, maka mari kita lihat sebuah beberapa proses yang sangat sederhana yang akan membawa kesadaran kita tentang Tuhan.

Tuhan…, sebuah kata yang sangat sederhana ini saja kalau dijelaskan oleh masing-masing orang, maka akan menjadi sangat ramainya. Apalagi kalau uraian itu hanya sekedar definisi dan definisi lagi…. “Nggak nyambung boo…”, kata anak saya. Yang satu menguraikannya sebagai A yang lain mengurainya B, yang lainnya lagi mengurainya C, D, E. dst. Huuuuh…, rame sekali. Sampai kapanpun nggak akan pernah nyambung, wong segala definisi-definisi itu hanyalah berdasarkan SISTEM NILAI apa dan mana yang kita pilih dan yakini untuk kita pakai saja kok.

Padahal kalau kita mau melakukan hal-hal yang sederhana, semua kita ini, siapapun orangnya, apapun agama kita, atau bahkan atheis sekalipun kita, maka kita tidak akan bisa mengelak dari realitas yang sederhana itu. Saking sederhananya yang akan kita bicarakan ini, tidak banyak umat manusia ini yang mau menjadikannya sebagai pintu masuk untuk meningkatkan kesadarannya untuk MENYADARI EKSISTENSI TUHAN.

Salah satu caranya sudah saya bahas dalam artikel “Membaca Qalam, Menuai Paham”. Dimana dengan mengamati nafas kita, ternyata kita bisa meningkatkan kesadaran kita sampai kita mau tidak mau harus mengucapkan Subhanaka…, Maha Suci Engkau wahai Tuhanku…

Dengan cara yang lain, tapi masih dengan cara mengamati dada kita. Sedikit banyaknya kita bisa pula dibawa untuk memahami, tentang bagaimana cara Allah menarok ayat-ayat-Nya di dalam dada kita, bagaimana Bahasa Allah yang disusupkan-Nya kedalam dada kita, yang disebut sebagai ILHAM. Sebagai dalilnya cukup kita ambil dua buah ayat berikut ini:

Sebenarnya, al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS.29:49)

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana (QS. 42:51)

Dari tulisan-tulisan beberapa orang teman sebelumnya, kita juga sudah tahu bahwa ada pula diantara kita yang memaknai ayat tersebut yang bermuara tentang adanya jenjang otoritas dan grading dalam keagamaan kita. Ya boleh-boleh saja sebenarnya kesemuanya itu. Kalau memang dengan cara seperti itu kita mampu keluar dari kesulitan praktek keberagamaan kita…, kenapa tidak. Akan tetapi jangan pula kita lalu menjadi sombong dengan menyalahkan orang lain yang barangkali sedang bisa pula merasakan keindahan agama dengan cara yang lain pula. Asal saja cara itu tidak bertentangan dengan sistem nilai yang kita rujuk…, yaitu sistem nilai Islam. Nanti tentang sistem nilai ini akan kita bahas lebih lanjut…

Lalu bahasa macam apa yang bisa kita terima dari Tuhan, karena Tuhan sendiri mengatakan bahwa Dia selalu menurunkan ilham kepada kita baik ilham tentang kefujuran maupun ilham tentang ketaqwaan. Tidak pernah tidak. Lalu bagaimana agar kita bisa membaca bahasa ILHAM tersebut…?. Sehingga kita bisa PAHAM bahwa ternyata Tuhan tengah mengilhamkan kefujuran kepada kita, atau ternyata Tuhan sedang mengilhamkan ketaqwaan kepada kita…!. Atau kalau tidak begitu, apakah dengan sudah wafatnya Rasulullah, Tuhan lalu juga sudah berhenti berkata-kata dengan kita-kita ini…?. Kasihan sekali kita ini kalau begitu…, ditinggal membisu oleh Tuhan.

Cuma sebagai sekedar rambu-rambu saja, janganlah kita beranggapan bahwa Tuhan akan berbicara dengan kita dalam bahasa manusia, seperti bahasa Indonesia yang sering dipraktekkan oleh sebuah kelompok “Komunitas Syurga” yang baru-baru ini diciduk oleh aparat. Nggak lah…!.

Untuk uraian yang berikut ini, saya akan mencoba menyajikan sebuah cara lain yang sangat sederhana untuk memahami ayat tersebut dari sisi yang lain pula.

DUDUK BERSANDINGANKAN Al QUR’AN …

Marilah kita mencoba untuk menyandingkan sebuah ayat Al Qur’an dengan dada kita. Lalu kita amati dan bandingkan dada kita dengan dengan ayat tersebut. Misalkan saja kita ambil ayat yang berkenaan dengan ciri-ciri orang munafik…

Kalau kita mulai dengan mendefinisi munafik, maka kita akan keluar dengan definisi-definisi yang boleh jadi bisa berbeda pula. Biar tidak bias, maka mari kita lihat ciri-ciri munafik berdasarkan salah satu ayat Al qur’an, yaitu:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (An Nisaa’ 142)

Coba kita lihat, betapa kita umat Islam ini sangat sering membaca ayat tersebut diatas. Akan tetapi selama ini pula, dalam membaca ayat tersebut kita hanya sebatas membacanya saja. Tapi membacanya kita itu, tidak dengan serta merta bisa meningkatkan kesadaran kita tentang apakah diri kita ini sedang munafik atau tidak. Kita lebih sering mengarahkan kesadaran kita kepada kemunafikan orang lain. Kita lebih sering menilai kemunafikan orang lain, kita lebih sering menasehati orang lain agar tidak munafik. Kita lebih kepada menggurui orang lain tentang kemunafikan dari pada mengajak orang untuk memahami kemunafikan-kemunafikan kita masing-masing.

Mari kita amati dada kita…, Ada pesan apa yang sedang ditarok Tuhan di dalam dada kita…?!.

Ketika azan dilantunkan, kita coba amati, dada kita. Bisa jadi saat itu dada kita dihinggapi oleh rasa malas (kusala), artinya saat itu juga kehendak agar kita shalat dicabut oleh Allah. Lalu kita melalai-lalaikan shalat kita itu sampai diakhir waktu. Lain kali, bisa saja kita bangun di tengah malam, misalnya kita kekamar mandi untuk buang air kecil, akan tetapi saat itu pula kehendak agar kita mau shalat tahajud di ambil oleh Allah. Dengan berbagai alasan yang kelihatannya masuk akal pula, kita tidak bisa melaksanakan shalat tahajud. Alasannya yang saya capeklah, yang saya besok pagi-pagi sekali harus pergi kesuatu tempatlah, dan berbagai alasan lainnya. Semuanya kelihatan masuk akal sekali.

Taroklah memang kita mau berdiri untuk shalat. Akan tetapi betapa sering kita dihinggapi oleh rasa malas sejak awal gerakan dan bacaan shalat itu. Kita malas untuk tadarru’, kita malas untuk tuma’ninah, kita malas untuk berdo’a dalam shalat (kita hanya sekedar komat-kamit saja), kita malas untuk rukuk menghormat dalam sebuah kerendahan hati, kita malas tersungkur sujud dalam menyembah Tuhan. Gerakan kita itu kelihatan sekali seperti orang yang malas. Satu-satunya yang kita tunggu mungkin adalah saat salam, ketika mana kita bisa keluar dari kesulitan dan keberatan shalat itu. Begitu salam…, kita bisa lega luar biasa. “Selesai sudah sebuah ritual yang kalau tidak kita kerjakan kita akan ditimpa oleh siksaan Tuhan”, kita membatin.

Kemudian anggaplah kita memang shalat dengan rajin, tepat waktu pula, dan berjamaah pula. Akan tetapi betapa sering pula dalam melaksanakan shalat itu keikhlasan kita dicabut oleh Allah. Kita melakukan semuanya itu dengan RIA. Kita ingin dianggap dan dinilai orang sebagai seorang yang taqwa, seorang yang beriman, seorang yang sangat shaleh dan berbagai alasan RIA lainnya. Hatta melakukan shalat dengan alasan ingin mendapat pahala dan syurga serta takut kepada siksaan Allah juga masih disebut sebagai sebuah perbuatan shalat yang tidak ikhlas.

Lebih-lebih lagi, selama dalam shalat yang kita lakukan, boleh jadi hanya sekitar lima sampai sepuluh menit saja, selama berapa lama pula kita bisa ingat dan sadar terus kepada Allah (IHSAN)…?. Bukankah hanya sedikit sekali kita bisa ihsan itu dalam shalat kita…?.

Nah…, sekarang cobalah perhatikan. Lebih jelas mana ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang munafik yang ada di mush’af Al Qur’an itu dengan ayat munafik yang sedang ditarok dan berada di dalam dada kita sendiri …?. Nyatanya lebih jelas ayat munafik yang ada di dalam dada kita. Nyata sekali ayat munafik yang ada didalam dada kita itu. Subhanallah…, hanya dengan beberapa saat saja kita mengamati dada kita, maka kita segera akan digiring untuk menjadi seorang penyaksi, sang SYAHID, tentang kebenaran ayat Al Qur’an.

Dan dengan cara yang sama, dengan menyandingkan dada kita dengan ayat-ayat Al Qur’an yang lainnya, ditambah pula dengan menyandingkan ayat Al Qur’an dengan dada-dada orang lain di sekitar kita, dan bahkan menyadingkannya dengan alam semesta dan segala isinya, maka insyaAllah kita akan dibawa selangkah demi selangkah untuk menjadi seorang penyaksi yang mau tidak mau akan membenarkan ayat demi ayat dari Al Qur’an. Tidak bisa tidak…!. Sebab yang namanya munafik, kufur, syirik, benci, marah, iman, taqwa, ikhlash, ihsan, dan berbagai macam kefujuran maupun ketaqwaan lainnya akan datang silih berganti menyapa dada kita masing-masing dari waktu kewaktu sepanjang masa, yang tentunya juga dengan sebuah alasan yang sangat tepat pula.

Makanya sebab musabab turunnya, misalnya, ayat tentang orang munafik tersebut, adalah ada dulu orang munafiknya saat itu, baru kemudian turun ayatnya. Jadi fungsi Rasulullah dalam hal ini hanyalah sebagai seorang translator saja dari adanya sebuah realitas atau keadaan munafiknya seseorang tersebut menjadi bahasa manusia, yaitu bahasa Arab. Karena Beliau adalah Rasulullah, maka proses translasi suasana orang munafik tersebut kedalam bahasa Arab dipandu oleh Allah melalui malaikat JIBRIL.

Jangankan Rasulullah, yang memang mempunyai kapasitas kearifan dan kehalusan rasa yang sangat luar biasa, kita sendiri orang yang biasa-biasa saja, juga bisa merasakan apakah seseorang, misalnya anak kita, sedang shalat dengan rasa ikhlas atau dengan rasa malas-malasan.

Lalu kenapa harus Jibril yang harus memandu Beliau dalam proses translasi dari suasana menjadi bahasa tertulis itu…?. Kenapa tidak Allah sendiri yang berbicara langsung kepada Beliau kata per kata, kalimat per kalimat…?. Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah berumur sejak zaman nabi-nabi sebelum Muhammad SAW.

Jawabannya juga sederhana sekali. Kalau Allah sendiri yang menyampaikannya, maka bahasa yang dipakai Allah kepada kita semua termasuk kepada Rasul-Rasulnya dahulu adalah dalam bentuk bahasa QALAM, bahasa ILHAM, bahasa WAHYU, bahasa TABIR, atau bahasa KUN FAYAKUN (jadilah, maka jadilah), yang merupakan beberapa ungkapan berbeda untuk satu hal yang sama, yaitu BAHASA TUHAN.

Sekarang marilah kita amati lebih dalam…, bahasa macam apa pula yang disebut dengan bahasa tabir, bahasa kun fayakun ini. Dan bagaimana pula cara untuk membacanya. Sebab Tuhan hanya mengisyaratkan cara mambacanya secara singkat dan sederhana, yaitu: “Bacalah semuanya dengan nama Tuhanmu…, Iqraa bismirabbik…”

MEMBACA TABIR, MENGUAK KUN…

Bahasa tabir adalah sebuah bahasa yang tidak ada kalimat-kalimatnya, tidak ada huruf-hurufnya, tidak ada suara dan bunyinya. Cukuplah SANG Maha Berbicara hanya dengan berkehendak saja…, “KUN (jadilah), FAYAKUN (maka jadilah)”. Misalnya: “Munafiklah kamu, maka lalu ditaroklah kemunafikan itu di dalam dada kita saat itu juga…”. Ya…, munafik itu langsung tertanam didalam dada kita, tanpa kita bisa mengelak sedikitpun Sehingga kita hanya bisa terheran-heran saja karenya. Dan luarbiasanya, kita juga tidak bisa keluar dari kemunafikan itu dengan mudah, kecuali Dia sendiri nanti yang akan mengambilnya kembali. Semua itu terjadi tanpa perantara sedikit pun.

Jadi kalau kita mengira bahwa Allah seharusnya berbicara langsung kepada kita melalui bahasa manusia, berupa kalimat-kalimat, huruf-huruf, bacaan-bacaan dan suara-suara seperti bahasa Arab yang kita kira, maka nantinya tidak ada bedanya lagi antara Tuhan dengan makhluknya. Ya…, seperti di filem-filem India atau di sinetron-sinetron itulah. Padahal Tuhan tidak…, tidak…, dan tidak akan pernah sama dengan makhluknya. Paling tidak dalam tata nilai Islam, entahlah kalau dalam sistem nilai lain diluar Islam.

Agar kita tidak tersesat, mari kita lihat dulu peta kita, yaitu Al Qur’an. Wajah Tuhan yang harus kita pandang seperti apa…?.

Ada…, bahwa Wajah Tuhan kita adalah Wajah yang tidak sama dengan wajah-wajah apapun juga. Dia LAISA KAMISTLIHI SYAI’UN….!. Nah… kewajah INI lah kita harus menghadap. Sebab untuk bisa mengerti tentang bahasa yang tidak sama dengan bahasa apapun juga itu, maka mau tidak mau terlebih dahulu haruslah kita bisa pula menghadapkan wajah kita kepada WAJAH yang tidak sama dengan apapun pula. Kalau tidak, kalau masih ada wajah lain yang terpampang dihadapan kita, hatta wajah yang kita kira JIBRIL sekalipun, atau wajah apapun jugalah namanya, maka bahasanya pastilah bukan bahasa tabir yang unik seperti diatas. Yang kita dapatkan hanyalah tabir yang berbicara-bicara dengan bahasa kita sendiri.

Jadi agar kita bisa membaca bahasa tabir yang hakiki, maka pertama-tama segala tabir apapun juga yang ada haruslah terlebih dahulu dinafikan (dihilangkan, diabaikan):

Laa Ilaha…, Laa Ilaha…, Laa Ilaha…!.
Mmm…, bukan itu…,
Aaa…, bukan itu juga…
Nnn…, ndak…, ndak…, ndak itu semua…,
Pergi semuanya…

Setelah semua itu pergi dari hadapan wajah kita, maka yang tinggal hanyalah yang tidak bisa kita halau lagi dari hadapan wajah kita…

Yang tinggal hanyalah INI…
INI ….

INI Ada Dia…, Huu…, Huu…

Lalu kita teguhkan…
Hanya Yang INI saja bagiku…, yaitu Engkau…!

Lalu kita istbath-kan kepada Sang Dia…, Huu…
Illa Anta…, Illa Anta…, Illa Anta…
Kecuali hanya Engkau…,
Hanya Engkau saja…, Hanya Engkau saja…!.
Tidak yang lain itu…
Hanya Engkau saja…,
Tidak yang itu…, yang itu…, yang itu…. No…!. Tidak…!.

Anta Allah…, Anta Allah…,
Engkaulah Allah…, Engkaulah Allah…!.
Anta Rabbana… Anta Rabbana…,
Engkaulah Tuhanku…, Engkaulah Tuhanku…

Illa Allah…, Illa Allah…, Illa Allah…!.
Kecuali hanya Yang INI, Allah…, Kecuali hanya Yang INI, Allah…, Kecuali hanya Yang INI, Allah…,

Illa Rabbana…, Illa Rabbana…, Illa Rabbana …!.
Kecuali hanya Yang INI, Tuhanku…, Kecuali hanya Yang INI, Tuhanku…, Kecuali hanya Yang INI, Tuhanku…,

Lalu dengan setarikan nafas panjang dan penuh dengan semangat yang menggumpal pekat kita teriakkan di dalam diam kita:

Laa Ilaha…., Illaallah…!.

Kita ulangi lagi beberapa kali dengan rintihan penuh rasa santun:
Laa Ilaha… Illaallah…!. Laa Ilaha Illaallah…!. Laa Ilaha Illaallah…!.

Lalu kita tinggal hanya diam menunggu, WUQUF…. Kita tunggu dengan sabar…, sabar…, dan sabar. Kita tidak usah terburu-buru. Karena hak untuk memberikan pengertian demi pengertian itu hanyalah Hak-Nya semata-mata. Hak Dia semata., bukan hak kita. Hak kita hanya dan hanyalah menunggu…, menunggu…, dan menunggu dengan sabar.

Lalu…, suasana yang muncul hanyalah suasana getar-menggetar yang sangat halus sekali, tapi bukan dalam bentuk getaran-getaran berfrekuensi. Proses yang terjadi dalam saat penantian, saat wuquf itu, adalah peristiwa respon-merespon yang sangat pekat, tapi semua itu terjadi bukan dalam bentuk suara-suara, bukan dalam bentuk kata-kata. Saat itu tidak ada huruf-huruf, tidak ada kalimat-kalimat, tidak ada warna-warni, tidak ada rupa-rupa. Bahkan saat itu tidak ada cahaya-cahaya apapun juga, namun begitu, ketika itu juga tidak gelap sedikitpun…!.

Selang beberapa lama kemudian…, akan muncul rasa selesai….
Deerrr…, selesai…, putus…!.

Lalu perlahan-lahan kita amati dada kita yang merupakan salah satu tabir, diantara sejuta tabir yang lainnya, tempat mana DIA akan menarok bahasa-Nya. Bahasa KUN, Bahasa TABIR.

Amatilah dada kita itu dan bacalah bahasa itu disana…

Aha…, dadaku kini menjadi lapang…
Aha…, dadaku menjadi sangat tenang dan damai…
Aha…, aku bisa memahami bahwa tadi sebelumnya dadaku itu begitu sempitnya, penuh dengan rasa ini, ras dengki, dan sebagainya.
Aha…, sekarang saya jadi mengerti tentang apa-apa yang tadinya aku bingung tentangnya.
Aha…, sekarang aku jadi mengerti tentang problem-problem yang tadinya kuanggap bukan sebagai problem.
Aha…, Aha…, Aha…, dst….!.

Kemudian…, pengamatan selanjutnya bisa saja kita teruskan kepada apa-apa yang ada disekitar kita. Misalnya, dalam hal ini, saya mencoba untuk memandang kepada Mr. Yusa Wredyan Syah; Mr. Iskandar; Mr Jhody A. Prabawa, to say the least. Tentu saja saya memandang beliau-beliau itu hanya melalui tulisan-tulisan beliau-beliau saja.

Dan…, subhanallah…, ternyata kesemua beliau-beliau itu juga adalah ayat-ayat Tuhan adanya. Beliau-belaiu adalah tempat Tuhan menarok bahasa-Nya agar saya bisa mengambil pengertian-pengertian. Begitu jelasnya…!

Aha… saya jadi bisa mengerti Pak Yusa Wredyan Syah
Aha…, saya jadi bisa paham dengan Pak Iskandar, Pak Jhody A. Prabawa….

Dan kemudian sepertinya ada pembatas yang sangat tegas antara suasana yang tadinya ada dengan suasana yang sekarang muncul. Ada batas yang jelas antara marah dan sabar, ada batas yang jelas antara benci dan cinta, ada batas yang jelas antara baik dan buruk. Dan sekarang saya malah jadi begitu menikmati segala perbedaan-perbedaan pemahaman yang muncul dengan begitu cepatnya. Sungguh menggairahkan sekali.

Namun…, saya juga seperti diingatkan, bahwa dalam mengertinya saya itu, Dia juga sedang memperingatkan saya dengan tegas: “Wahai hamba-Ku…, dari-Ku lah semua pengertian-pengertian dan kepahaman-kepahaman itu…!”. Dan tiada lain yang bisa saya lakukan, kecuali saya tinggal hanya berterima kasih kepada-Nya. Alhamdulillah…!. Kalau tidak maka di dada saya akan kembali ditarok oleh Allah dengan rasa sombong yang rasanya sungguh tidak enak.

Dan saya menjadi saksi, kalau di dada kita ini sudah di tarok rasa sombong oleh Allah, maka sebenarnya yang terjadi adalah Allah sedang menjauhi kita, karena kesombongan kita itu. Sebab sombong itu benar-benar hanyalah selendang buat Allah saja, bukan buat yang lain. Dan kalau kita sudah dijauhi oleh Allah, ditendang oleh Allah, maka apa saja rasanya jadinya tidak enak. Beda pendapat saja jadi tidak enak…!.

MERANGKAI KALIMAT-KALIMAT….

Kalau sudah begini…, maka sebenarnya sudah terserah kita saja. Mau diapakan pemahaman demi pemahaman yang ditarok Allah kedalam dada kita itu. Apa mau kita translate “aha…, aha…, aha” tadi itu kedalam bahasa manusia atau tidak. Kalau tidak maka semua pemahaman itu hanya untuk diri kita sendiri. Betapa sempitnya kalau memang seperti itu. Hanya mementingkan diri kita sendiri.

Oleh sebab itu, mari kita lihat apa yang dilakukan oleh junjungan kita yaitu, Muhammad Rasulullah Saw.

Begitu Rasulullah berhasil memandang Allah, yang prosesnya dimulai di GUA HIRA, dengan arah dan alamat yang tepat seperti yang dituntun oleh JIBRIL, maka sejak itu pulalah sebenarnya Beliau mulai menjalani destiny Beliau sebagai seorang Nabi, seorang Rasul. Dengan mandat itu…, Beliau ditugaskan Allah untuk menjadi seorang TRANSLATOR yang akan menerjemahkan bahasa KUN, Bahasa TABIR menjadi kedalam bentuk bahasa MAKHLUK. Yaitu bahasa yang ada huruf, ada bunyi, dan ada kalimat-kalimatnya.

Karena Beliau adalah seorang yang UMMI, yang tidak bisa tulis dan baca, maka oleh sebab itu haruslah ada pula dari unsur makhluk yang akan memandu Beliau dalam menghasilkan deretan huruf demi huruf, kalimat demi kalimat dalam menterjemahkan bahasa Tuhan itu. Dan makhluk itu di sebut dengan JIBRIL. Sang JIBRIL lah yang menuntun Rasulullah dalam melakukan translasi secara lengkap atas bahasa Tabir itu. Sebab kalau tidak, kalau hanya Rasulullah sendiri yang melakukan terjemahan bahasa KUN FAYAKUN itu kedalam bahasa Arab, maka Beliau bukan lagi disebut sebagai seorang Rasul Allah yang dibimbing oleh Allah. Dan akibatnya derajat Beliau akan jatuh menjadi hanya seorang bisa yang berbicara dengan hawa nafsunya sendiri. Padahal Allah menyatakan bahwa kalau Muhammad itu berbicara dengan hawa nafsunya, maka Allah akan memutuskan tali jantung Beliau:

Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. (Al Haaqqah 44-46)

Jadi jelas sekali bedanya antara kita dengan Rasulullah. Seperti berbedanya batu kali dengan batu mutiara ratna manikam. Makanya hasil yang didapatkan oleh Rasulullah dalam membaca bahasa KUN FAYAKUN, bahasa QALAM itu juga sangat sempurna sekali. Beliau berhasil membaca secara UTUH bahasa QALAM itu yang tertuang di dalam kitab segala kejadian dan sekaligus juga kitab segala kehancuran dari segala apapun juga. Bahkan Beliau mampu pula membaca tentang KEBERADAAN DZAT KEABADIAN yang ADANYA tanpa AWAL dan AKHIRNYA tanpa AKHIR secara paripurna pula. Dan akhirnya, dengan secara UTUH pula KESEMUANYA berhasil Beliau translasikan kedalam bentuk bahasa tertulis, yaitu bahasa ARAB, bukan dalam bahasa Persia, ataupun bahasa Yunani.

Dan luar biasanya lagi, tidak ada satupun bahasa Qalam itu yang tertinggal, atau tercecer dari pengertian Beliau. Semuanya berhasil beliau rangkai pula, dengan bantuan JIBRIL, menjadi sebuah POTRET atau PETA POHON BESAR KEHIDUPAN, yaitu AL QUR’AN. Sungguh Al Qur’an ini adalah sebuah peta yang sangat sempurna yang bisa kita jadikan sebagai pedoman kita dalam menjalani kehidupan ini.

Lalu untuk kita sendiri bagaimana…?. Masih perlu pulakah masing-masing kita ini menjadi seorang translator atas bahasa Kun Fayakun dari Tuhan yang tetap akan menyapa setiap ciptaannya sepanjang masa itu…?.

Untuk menjawabnya mari kita temukan saran yang diberikan oleh Rasulullah dalam hadits Beliau yang terkenal:

 Telah kutinggalkan dua perkara, yang kalau kalian mengikuti keduanya, maka kalian akan selamat. Dua perkara itu adalah Al Qur’an dan Sunnahku…

 Antum a’lamu ‘ala umuriddunyakum, kamu lebih tahu daripada aku tentang urusan duniamu…!

 ”Sampaikanlah kebenaran itu walau hanya satu ayat”. Satu kalimat dua kalimat saja sudah cukup sebenarnya. Ya…, sebatas kemampuan kitalah.

Kalau begitu sungguh sederhana sekali sebenarnya tugas kita ini. Tidak seberat tugas yang dipikul oleh Rasulullah.

Sebagai peta yang paripurna, Al Qur’an maupun pada bagian-bagian tertentu dari Al Hadits telah membuat kita menjadi sudah tidak perlu lagi capek-capek untuk merangkai kalimat-kalimat untuk menerangkan tentang bahasa KUN, bahasa TABIR, yang berhasil kita pahami. Kita tinggal merujukkan saja ke ayat-ayat yang ada didalam Al Qur’an. Selesai tugas kita. Hal ini berlaku terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan tauhid, ibadah, akhlak, keimanan, ketaqwaan, khusyu’, dan beberapa hal yang lainnya. Begitu juga dalam hal-hal yang berkaitan dengan kefujuran seperti munafik, kufur, dan sebagainya.

Akan tetapi, begitu kita merasakan sebuah dorongan agar kita bisa sharing bahasa Tabir itu dengan orang lain, maka begitu kita diberi kepahaman tentang sesuatu, maka tidak ada salahnya kita mencoba untuk merangkainya, walau dengan terbata-bata sekalipun. Untuk itu, maka langkah pertama yang harus kita lihat adalah, apakah bahasa-bahasa yang kita keluarkan itu bertentangan atau tidak dengan peta besar Al Qur’an yang telah berhasil di gambar oleh Rasulullah dengan begitu lengkap tapi praktis. Jangan kita sandingkan dengan “katanya-katanya” yang berasal dari banyak sumber yang diluar itu. Kalau bertentangan, maka pastilah itu bahasa ego kita, bahasa hawa nafsu kita sendiri. Dan buru-buru lah kita lari ke Allah untuk minta ditunjuki bahasa yang benarnya seperti apa. Kalau tidak, dan ketidaksesuaian itu tetap kita lanjutkan terus, maka bahasa kita itu akan menjadi bahasa yang ditentang oleh bahasa peradaban masyarakat.

Kalau bahasa yang akan kita rangkai itu tidak ada pertentangan dengan peta Al Qur’an, maka tidak ada salahnya kita mencoba untuk menjadi seorang yang hanya sekedar menyampaikan satu dua ayat yang kita pahami. Diterima atau ditolak orangpun itu sudah bukan masalah lagi sebenarnya. Toh yang akan membuat orang untuk mengerti atau tidak dengan apa-apa yang kita sampaikan itu bukanlah hak kita. Sebab untuk memberi hidayah itu adalah PURE hak dan milik Tuhan. Ya enjoy saja…!.

Sedangkan untuk Bahasa Tabir yang lainnya yang disampaikan-Nya melalui tabir-tabir-Nya yang yang lain yang bertebaran di muka bumi ini, maka siapapun yang duluan menjadi paham dan mengerti, maka sudah kewajibannya sendiri untuk membahasakannya menjadi bahasanya sendiri, untuk dipakai demi kemaslahatannya sendiri maupun orang lain. Kalau tidak, maka dia akan rugi sendiri. Misalnya saja, Bahasa KUN di tabir petir, telah berhasil dibaca dan di translasi oleh orang-orang menjadi bahasa lampu listrik, bahasa komputer, bahasa electric arc furnace (di pabrik baja), dan sebagainya. Kalau tidak, yaa…, kita akan tetap dirumah bilik berlampukan lilin atau lampu tempel. Dan sebagainya.

Sungguh tabir-tabir tempat Tuhan menarok bahasa-Nya sangatlah tidak terbatas. Kering tujuh lautan untuk menuliskannya, maka belumlah kita akan berhasil mengurainya walau hanya sebahagian kecil saja.

Ya selesai sudah sekelumit pembahasan saya tentang lautan kira-kira. Buat sesaat lega rasanya dada saya. Alhamdulillah…!.

Dan bagi Anda yang membacanya, begitu Anda selesai membacanya, maka seketika itu juga tulisan saya ini sudah menjadi obsolet. Sudah ketinggalan zaman dan menjadi sejarah pula. Oleh sebab itu jadikanlah tulisan ini hanya sebagai batu loncatan saja untuk Anda injak-injak dalam rangka Anda melangkah ketahapan pemahaman selanjutnya. Saya tidak akan berkecil hati sedikitpun andaikan tulisan saya ini nanti ada yang dipakai sebagai kertas pembungkus sayur-sayuran.

Teruslah Anda semua menjalankan kesadarannya. Sungguh sangat tak terhingga dan tak akan pernah berhenti Tuhan dalam mengalirkan kepahaman demi kepahaman kepada hamba-hambanya yang mau diberinya pengajaran sepanjang masa.

Jl. Kabel no. 16, Cilegon
30 Desember 2005, jam 06.00

Wass
Deka

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: