Skip to content

MEMBACA QALAM MENUAI PAHAM

August 19, 2011

MEMBACA QALAM MENUAI PAHAM
Sebuah ulasan untuk Mas Iskandar

iskandar wrote:

Mas Arief murid Allah yang baik, dari pengalaman Mas Arief dalam ruang kelas Allah adakah Mas Arief jumpa dengan Para Nabi dan Sholihin lainnya ?

Mas Arief, mengapa dahulu Allah tidak mengajarkan para nabi dan sholihin-Nya secara langsung, adakah perubahan kurikulum dalam universitas-nya Allah ini ?.

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana (QS. 42:51)

Ilmu apa yang Mas Arief dapat dari berguru langsung pada Allah ?

Dalam catatan Al Qur’an dikatakan :

Sebenarnya, al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS.29:49)

Apakah Mas Arief pernah mendapat Al Qur’an yang didada dari guru-nya?

Bagaimana dan lewat siapa mendaftar jadi muridnya Allah ?

Adakah agent atau perwakilan pendaftaran yang disahkan Allah ?

Adakah ujian dalam pendaftaran ?

Jika lulus ujian pendaftaran, adakah perjanjian Ijab-Qabul dengan Allah ?

Bagaimana saya dapat meyakini, jika saya bertanya lalu keluar jawaban adalah kata-kata dari guru-nya Mas Arief yang Maha Bijaksana ?

Ada ujiankah, Sampai kelas berapa dan berapa lama kita tahu kelulusannya ?

Para murid senior-nya yang sudah lulus, saat ini bertugas sebagai apa ?

Apakah gelar kelulusan diberi titel “Haji” seperti kakak kelasnya Mas Arief

yaitu Haji Slamet Oetomo ?

Apakah para nabi dan solihin-Nya juiga memakai titel itu ?

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.

Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. 89:27-30)

Dahulu Rasulullah saw bersama Jama’ah-nya berkedudukan sebagai Imam (pemimpin), adakah diruang kelas Mas Arief pemimpin kelasnya ?. Apakah pemimpin kelasnya Mas Arief lebih tinggi kedudukannya dari Para Nabi dan Sholihin terdahulu yang tidak diperkenankan berguru langsung kepada Allah ?

Lihat lagi (QS. 42:51) dan referensi hadits ini,

Shahih Bukhari III No.1434, Dari Abu Mas’ud r.a. katanya, Saya mendengar Rasulullah saw bersabda :”Jibril turun (datang), lalu menjadi Imam saya, dan saya sembahyang bersama dia, saya sembahyang bersama dia, saya sembahyang bersama dia, saya sembahyang bersama dia dan saya sembahyang bersama dia”. Beliau hitung dengan jari beliau lima kali sembahyang.

Terima kasih dan Mohon maaf mudah-mudahan pertanyaan-nya tidak membuat jengkel dan susah para murid Allah yang penyabar.

Iskandar

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Saya sangat terkesan dengan uraian Mas Iskandar ini, apalagi dengan kalimat penutupnya:

“…mudah-mudahan pertanyaan-nya tidak membuat jengkel dan susah para murid Allah yang penyabar…”

Kalimat ini mengisyaratkan bahwa seakan-akan uraian Mas Iskandar seperti dibawah ini adalah sebuah uraian yang berat dan sulit sekali, sehingga bisa membuat kami ini marah-marah atau paling tidak juengkel.

Ah…, uraian seperti ini nggak ada pengaruhnyalah buat kami.

Ijinkanlah saya (si Deka) untuk membahasnya barang sekalimat dua kalimat.

Bagi saya membaca uraian Mas Iskandar ini adalah seperti melihat diri saya kembali pada rentang waktu lima tahunan yang lalu. Pada saat-saat itu, isi otak saya, persis seperti isi otak Mas Iskandar ini dalam memaknai ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadits yang di kutip tersebut. Muatannyapun lebih kepada sebuah ungkapan kesinisan saja yang dibingkai dengan ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadist terhadap orang lain.

Coba perhatikan…, bagaimana ayat-ayat yang sudah sangat jelas di atas kemudian menjadi tidak jelas lagi karena kita menjauh sendiri dengan sengaja dari ayat-ayat tersebut. Menjauhnya kita itu adalah karena kita tidak mampu untuk menyadari realitas ayat tersebut dalam kehidupan kita yang real. Begitu kita akan memulai meningkatkan kesadaran kita kepada Allah, akan tetapi dengan seketika itu juga kita malah dibawa untuk menutup kesadaran kita kepada Allah.

Ya…, kita malah dibawa untuk mengalihkan kesadaran kita kepada makhluk Allah, yaitu GURU MURSYID, IMAM SUCI, AVATARA, MURABBI, yang merupakan cara penamaan yang berbeda untuk satu hal yang sama saja. Para perantara ini dianggap mempunyai otoritas dan wewenang yang pasti dalam mengantarkan kesadaran kita menuju kepada Allah. Kita diafirmasi (didoktrin) dengan sangat kuat, bahwa tanpa campur tangan para orang-orang yang di anggap sebagai avatara tersebut, maka kita ini tidak mungkin bisa memahami bahasa Allah, pengajaran Allah, bimbingan Allah, tuntunan Allah.

Begitu juga, dalam uraian Mas Iskandar ini tentang bagaimana Allah mengajarkan manusia hal-hal yang tidak diketahuinya: ‘allamal insaana maa lam ya’lam…!, dan juga tentang cara-cara Tuhan mengajari manusia itu yang pada ayat sebelumnya disebutkan melalui bahasa QALAM “alladzi ‘allama bil qalam”, bahasa tanpa kata, tanpa kalimat, tanpa huruf, tanpa perantara, sungguh terlihat sekali bahwa orientasi berfikir Mas Iskandar hanyalah sebatas orientasi ajar mengajar seperti antar sesama manusia.

Masak sih cara mengajar Allah kalah canggih dengan cara mengajar manusia. Masak sih ada grading, ada ujian, ada kelas, ada senior, ada yunior seperti yang Mas Arif pikirkan itu. Itu kan hanya cara mengajar di sekolah ketarekatan atau sekolah keimaman model manusia.

Namun begitu saya berterima kasih juga telah diingatkan dengan ayat yang menyatakan bahwa Al Qur’an itu realitasnya ada di dalam DADA orang yang diberi ilmu, diberi pemahaman, diberi pengertian oleh Allah sendiri. Ayat QS 29:49 tersebut menyatakan bahwa realitas ayat itu begitu jelasnya sehingga tidak ada seorang pun yang bisa membantahnya, kecuali orang-orang yang zalim.

Ah…, masak sih Mas Iskandar mau berposisi sebagai orang yang zalim. Betapa tidak…, coba…! Sudah di katakan pada ayat tersebut bahwa realitas Al qur’an yang sebenarnya, ayat-ayat Tuhan, tanda-tanda Tuhan itu ada didalam dada Mas Iskandar sendiri, dan ini HANYA akan bisa disadari oleh orang-orang yang diberi ilmu dan orang-orang yang dicerahkan oleh Allah, ehhh… mas Iskandar malah BERPALING dari ayat tersebut. Alih-alih Mas Iskandar mengamati dadanya sendiri, malah sampeyan itu mengalihkan kesadarannya kepada AVATARA sampeyan yang sampeyan sebut sebagai guru mursyid ataupun imam suci. Ini kan ketidakmengertian terhadap ayat itu saja namanya kalau tidak mau dikatakan kezaliman.

Mari kita coba IQRA ke DADA (SUDUR) manusia itu untuk menemukan Al qur’an disana. Untuk menyadari tanda-tanda Tuhan yang sedang beraktifitas disana. Lalu kemudian kita baca pula bahasa Tuhan apa yang disampaikan kepada kita. Bahasa Tuhan itu begitu jelas, begitu SOLID, begitu BERBEDA dengan bahasa seluruh makhluk. Bahasa itu adalah bahasa wahyu, ilham, seperti ayat yang Mas Iskandar sadur itu:

(QS. 42:51) Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

Bahasa wahyu, bahasa ilham yang bisa ditangkap dengan sangat sempurna oleh seekor LEBAH sekalipun. Karena bahasa Tuhan itu adalah bahasa yang bisa DIMENGERTI oleh siapapun dan oleh apapun juga. Yaa…, bahasa KEMENGERTIAN, bahasa KESADARAN, bahasa KEPAHAMAN. Bahasa kemengertian ini kalau diuraikan dengan bahasa manusia malah menjadi bahasa yang tidak komplit lagi pengertiannya.

Nggak percaya, mari kita coba. Kita ambil saja ayat-ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang TUHAN.

Di dalam Al Qur’an, misalnya, Allah menerangkan diri-Nya bahwa:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat… (Al Baqarah 186).

Namun definisi inipun masih belum sempurna, dan kemudian di lengkapi lagi oleh Allah dalam surat Al QAAF ayat 16, bahwa Allah bukan saja dekat, tapi : “Allah LEBIH DEKAT dari URAT LEHER” kita…!. Inipun masih sempurna dan tidak bisa mewakili Allah yang sebenarnya, lalu kemudian ditambahi lagi oleh Allah dalam surat Al Baqarah ayat 115, bahwa : “KEMANA SAJA menghadap, disana ada wajah Allah”. Inipun ternyata tidak bisa mewakili tentang Allah, lalu Allah menambahinya lagi keterangan tentang Diri-Nya dalam surat Al Baqarah 19, bahwa: “Allah MELIPUTI orang-orang kafir”. Lagi dalam surat Al Israa’ 60, bahwa: “Sesungguhnya Tuhanmu MELIPUTI segala manusia”. Masih belum mewakili juga, maka di tambahkan lagi dalam surat An Nissa 126 dan Al Fushilat 54, bahwa “Allah Maha MELIPUTI segala sesuatu, Dia Maha MELIPUTI segala sesuatu”.

Sudah selengkap itu Allah menerangkan tentang Diri-Nya, akhirnya “disimpulkan” sendiri lagi oleh Allah sendiri, dalam ayat Asy Syura 11, bahwa “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…”. TITIK.

Demikianlah Tuhan menunjukkan kepada kita bagaimana sulitnya untuk menguraikan dan mendefiniskan tentang DIRI-NYA sendiri melalui bahasa OTAK manusia yang memang sangat terbatas.

Lha…, lalu kita mau mendefiniskan dan mau menguraikan seperti apa lagi tentang Sang Punya Daya INI …??. Berani-beraninya kita ini …!. Berhentilah dari definisi-definisi, berhentilah dari persoalan-persoalan. Mau di definisikan dan dipersoalkan bagaimana lagi…?. Wong SANGAT JELAS begitu kok…!. Kalau didefinisikan dan dipersoalkan malah yang sudah SANGAT JELAS INI akan menjadi TIDAK JELAS lagi. Akibatnya kesadaran kita malah jadi akan TERTUTUP (COVERED) oleh definisi-definisi dan persoalan-persoalan itu, sehingga jadilah kita orang yang tercover (kafir dalam bahasa Arabnya).

Oleh sebab itu…, sekarang cobalah kita semua memperhatikan NAFAS kita agak sejenak. Amati saja…, nggak usah pakai definisi-definisian segala.

Coba amati…, nafas itu keluar…., masuk…, keluar…, masuk…!.

Coba kita atur sendiri keluar masuknya…. Ooo ya…, kita seperti bisa mengatur keluar masuknya nafas itu dengan kehendak kita…!. Lalu kita bisa berkata: “Horeee…, saya bisa mengatur keluar masuknya nafas saya oiii”.

Lalu coba tahan nafas kita itu…, 30 detik. Oke, masih bisa. Terus tahan 1 menit. Oke masih bisa…. Lalu 2, lalu 3 menit…, dan begitu kita memaksakan terus untuk menahan nafas itu, maka kita akan tersiksa, bahkan bisa mati. Lima menit, atau taroklah 10 menit saja kita menolak daya yang mendorong nafas itu untuk keluar masuk, maka kita akan… MATI.

Jadi sebenarnya hidup kita ini, yang tanda-tandanya adalah dengan adanya nafas kita, selalu dalam keadaan sangat-sangat kritis sekali. Hidup kita selalu bergerak dari sebuah kematian, lalu dihidupkan kembali, lalu dimatikan kembali, lalu dihidupkan kembali. Terus begitu. Kalau tidak percaya cobalah amati. Andaikan saat nafas kita didorong keluar lalu tidak di dorong masuk kembali oleh Sang Penggerak Nafas, betapa tersiksanya kita ini. Kita akan megap-megap, dan lalu akhirnya… MATI juga.

Kalau mau digambarkan lebih lanjut, maka hidup kita itu adalah seperti sebuah grafik saja. Kalau tidak percaya cobalah sekali-sekali kita amati hidup kita ini melalui alat bantu lihat detak jantung di ruang ICU. Indikatornya akan bergerak dari titik teratas lalu turun ke titik terbawah, lalu naik lagi ke titik teratas, lalu turun lagi ke titik terbawah. Terus seperti itu selama Sang Penggerak Jantung masih berkenan untuk menggerakkan jantung kita. Pada titik teratas itu sebenarnya kita berada dalam keadaan mati, lalu dihidupkan kembali yang tandanya adalah adanya pergerakan detak jantung kita menuju titik terbawah. Pada titik terbawah, sebenarnya kita berada kembali dalam keadaan mati, dan kemudian dihidupkan kembali yang tanda-tandanya adalah dengan digerakkannya jantung kita kembali ketitik grafik terbawah.

Jadi kalau kita amati dengan kesadaran yang sederhana saja, nggak perlu rumit-rumit…, maka kita akan berada dalam sebuah kesadaran baru. Misalnya, lho kok seperti ada DORONGAN agar nafas itu keluar dan masuk ke paru-paru kita. Eee…ya.., kok nafas itu seperti DIDORONG untuk keluar dan masuk dengan teratur. Lalu coba kita ikuti saja dorongan itu. Nggak usah kita lawan, dan nggak usah kita atur-atur lagi masuk dan keluarnya nafas itu…!. Kita tidak capek sedikitpun untuk bisa bernafas itu.

Begitu juga…, kalau kita amati detak jantung kita, maka kita akan sadar bahwa ternyata jantung kita juga hanya sekedar bersandar kepada SEBUAH DAYA yang mendorongnya agar dia selalu bergerak mengembang, mengempes, mengembang, mengempes secara teratur.

Biasanya kita hanya berhenti sampai disini saja. Ya kita berhenti bahwa nafas itu keluar masuk, jantung kita kembang kempis HANYA karena sunatullah saja. Kita kebanyakan hanya berhenti bahwa pergerakan nafas dan jantung itu adalah hukum Tuhan, kejadian dan kebiasaan alamiah saja yang memang harus seperti itu. Maka jadilah pergerakan nafas dan jantung kita itu tidak menjadi pusat perhatian kita lagi untuk mendapatkan pencerahan dalam hidup kita.

Padahal kalau kita menaikkan sedikit saja kesadaran kita bahwa nafas dan jantung kita itu hanya sekedar didorong oleh sebuah DAYA yang tidak bisa kita lawan, tidak bisa kita hentikan, maka mau tidak mau kita akan terpesona dibuatnya. Ooo…, ternyata ADA DAYA yang menggerakkan nafas itu. Ooo…, ternyata ADA DAYA yang medorong gerak jantung itu. Daya itu tidak sama dengan nafas dan jantung itu. Daya itu meliputi nafas dan jantung saya…, meliputi nafas dan jantung anda, meliputi nafas dan jantung semua…, nafas dan jantung binatang…, nafas dan jantung tumbuh-tumbuhan…, nafas dan jantung alam semesta.

YA…, DAYA YANG MENGGERAKKAN nafas dan jantung kita itu ternyata adalah SATU, AHAD, sama dengan DAYA yang menggerakkan alam semesta dengan segala isinya.

Kita tingkatkan lagi kesadaran kita…!.

Ooo…, daya ini ternyata berasal dari SANG PUNYA DAYA…!.

Ooo…, Sang Punya Daya…!.

Ooo…, Sang Maha Penggerak segala sesuatu….!.

Ooo…, Sang SATU…, AHAD…, AHAD…, AHAD…!.

Dan lain kita hanya tinggal menyungkur saja, atau tepatnya disungkurkan, didepan Sang AHAD. Kita hanya tinggal sungkem, kita hanya tinggal menikmati saja saat-saat ditangiskan, saat-saat ditenangkan, saat-saat diluaskan dada kita oleh Sang AHAD. Kemudian kita hanya tinggal membawa bawa muatan do’a kita kepada DIA, Sang AHAD. Ahh…, nggak perlu kata-kata dan kalimat-kalimat lagi sebenarnya.

Didalam peta dan pedoman umat Islam, yaitu Al Qur’an, ayatnya ada kok yang mengindikasikan bahwa betapa sangat kritisnya kehidupan kita itu. Kita hanya berada antara hidup dan mati. Dan itu sangat-sangat dekat sekali.

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (Al Baqarah 28).

Tapi sayangnya umat islam yang mengakunya sering ‘membaca’ ayat diatas, jarang sekali membacanya dengan sebuah kesadaran penuh. Yaa…, kenapa kita ini masih sangat banyak yang tercover…???. Sudah sangat jelas begitu kok kita ini masih bisa tercover ya…??!.

Kebanyakan kita dalam memahami ayat itu orientasinya sangat jauh ke belakang dan ke depan. Kita kira ayat itu adalah menerangkan tentang keadaan kita dari saat kita masih nutfah, kemudian besar, kemudian mati dan pergi ke akhirat. Ya kita kira ayat itu hanya bercerita tentang hidup dan matinya kita yang memakan waktu mungkin bisa puluhan tahun. Akibatnya kita menjadi kehilangan kesadaran terhadap Sang Pengerak nafas dan jantung kita sendiri. Kita tidak care lagi terhadap-Nya.

Coba perhatikan lagi nafas kita dengan seksama. Tidakkah alunan keluar masuknya nafas kita itu tengah merendah-rendah berkata: “aku hanya di dorong masuk, aku hanya didorong keluar…, aku di dorong… aku didorong…, aku hanya didorong keluar masuk melewati paru-paru si Deka”.

Coba amati lagi nafas kita itu dengan lebih seksama, tidakkah disitu ADA Sang Pendorong nafas itu sedang berkata dan mengaku-nngaku dengan sangat angkuh sekali: “Yaa…, Aku yang mendorongmu keluar wahai nafas…!. Aku yang mendorongmu masuk wahai nafas…!. Aku yang mendorongmu…, Aku…, Aku…!”.

Coba perhatikan pula denyut jantung kita dengan seksama, tidakkah jantung itu sedang tersungkur pula dalam sebuah tarian harmoni kehidupan…?. Tidakkah jantung itu sedang histeris dan merendah rendah dalam pengakuannya…?. “Aku hanya dikembangkan…, aku hanya dikempeskan…, aku dikembang-kempeskan…, aku nggak bisa melawan sedikitpun…, aku patuh kepadamu wahai Sang Penggerak ku…!!!”, ungkap sang jantung dengan dahsyat sekali.

Coba lebih diperhatikan lagi dengan sebuah kesadaran penuh. Tidakkah Sang Penggerak Nafas itu sedang manyampaikan sabda-Nya…?. “KUN… wahai jantung…, Aku yang menggerakkanmu…, bergeraklah…!. Aku yang mengempeskanmu…, kempeslah…!. Aku yang mengembangkanmu…, kembanglah…!. , Aku…, Aku…!, sabda Sang penggerak nafas kita dengan tegas sekali. Sebuah sabda abadi yang melintas berbilang ZAMAN.

Lalu dengan merendah-rendah kita tinggal mengungkapkan KESAKSIAN kita saja lagi, seperti yang dilakukan oleh orang-orang ULUL ALBAB kapan pun dan dimana pun dia berada:

“Rabbana maa khalakta haadzaa bathiila”, Wahai Sang Penggerak nafas dan jantungku, ternyata tidak sia-sia Engkau menciptakan DADA saya ini. Karena di DADA ini ternyata ada ayat-ayat-Mu yang sangat nyata. Ada tanda-tanda-Mu yang sedang SIBUK BERAKTIVITAS disana.

Subhanaka…, subhanaka…, subhanaka…, Wahai Sang Penggerak nafas dan jantungku, Maha Suci Engkau… Wahai Sang Penggerak nafas dan jantungku Maha Suci Engkau…!.

Laa ilaha illa anta…, Laa ilaha illaa anta, Wahai Sang Penggerak nafas dan jantungku, tiada lagi alamat lain tempat saya mengarahkan kesadaran saya kecuali hanya kepada-MU…, kecuali kepada-Mu…, Illaa anta…!. Illa anta…!. Anta…, anta…!.

Hu…., Hu…. Hu…!.

Lalu ku teriakkan dengan penuh kegembiraan kesaksianku tentang DIA ke sudut-sudut pengertian siapapun juga bahwa benar:

Hua Allah…, Dia lah Allah ku…!.

Hua Rabbana…, Dialah Tuhan ku…!.

Hua Maulana…, Dialah Pelindungku…!,

Hua waliyyam mursyida, Dialah Waliku yang menunjukiku…,

Dan kita tinggal diam saja lagi menerima kepahaman demi kepahaman yang dialirkan Tuhan kedalam dada kita. Karena memang IMAN itu datangnya ke dalam dada, bukan kedalam otak kita. Dan kepahaman itu akan terus meningkat sebagai pertanda iman kita juga sedang meningkat.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (al Anfaal 2).

Alhamdulillah…, ternyata dengan membaca ayat-ayat Tuhan yang ada didalam dada saya ini. Allah Sendiri menarok KEPAHAMAN kepada saya tentang Allah Sendiri yang sedang beraktifitas di dalam dada saya, dan juga didalam dada seluruh umat manusia.

Nah…, sekarang tinggal kita lanjutkan saja perjalanan kesadaran kita…!. Mau mengamati umat tingkah laku manusia…?. Boleh…!.

Karena Yang Punya Daya Gerak INI menggerakkan keluar masuk nafas seluruh umat manusia tanpa kecuali, maka pastilah kepada-Nya pula seluruh umat manusia itu BERGANTUNG. Tidak bisa tidak. Bahkan seluruh alam semesta ini beserta segala isinya juga bergantung kepada Sang Punya Daya INI. Makanya Sang Punya Daya INI disebut juga sebagai RABBUL ‘ALAMIN (TUHAN SEMESTA ALAM). YA…, Dia adalah Tuhan seluruh umat manusia, TANPA KECUALI…!.

Tepatnya…, Dia adalah Tuhan umat Islam, Dia adalah Tuhan umat Kristen, Dia adalah Tuhan Umat Hindu, Tuhan umat Budha. Dia adalah Tuhan semua umat manusia, dan Tuhan alam semesta, bahkan Tuhan orang atheis sekali pun.

Ya… seharusnya kepada Sang Penggerak Nafas dan Jantung seluruh umat manusia ini sajalah semua orang seharusnya mengarahkan kesadarannya, penghormatannya, penyembahannya. Akan tetapi manusia-manusia ternyata banyak yang menyasarkan kesadarannya sendiri. Mereka memilih avatara-avatara yang jumlahnya tak terkira banyaknya sebagai objek kesadaran mereka masing-masing. Makanya kemudian ada agama-agama dan aliran-aliran yang memiliki sistem nilainya sendiri-sendiri. Dan begitu kita memilih sesuatu sebagai avatar itu, maka kita langsung masuk kedalam golongan orang-orang yang zalim seperti yang diberitahu Allah lewat ayat yang Mas Iskandar sampaikan.

Ah…, Cukup sampai disini sajalah saya uraian hal seperti ini.

Saya bertanya juga dikit nih…. Sudahkah Mas Iskandar itu bertemu dengan orang-orang shaleh seperti yang Mas Iskandar sebutkan itu diawal uraiannya dan pada Al Hadits Shahih Bukhari III No.1434 yang sampeyan sadur…?.

Cuma saya pesan saja sedikit kepada Mas Iskandar…, kalau mau zalim jangan bawa-bawa orang lain dong…!. Kalau mau zalim ya zalim sajalah sendiri…, he he he…!.

Tapi paling tidak saya berterima kasih juga kepada Mas Iskandar yang telah mengingatkan saya tentang ayat tersebut dibawah. Ayatnya sama…, tetapi file di otak kita ternyata berbeda dalam hal atau cara memahaminya. Karena filsafat NILAI yang ada didalam otak kita ternyata berbeda.

Nanti juga akan saya bahas lagi tentang bagaimana setiap manusia ini TIDAK bisa keluar dari FILSAFAT NILAI yang ada di otaknya.

Wass

Deka

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: